STRATEGI PEMBERDAYAAN
PENGARUH FAKTOR INTEREN DAN EKSTEREN
TERHADAP
KETAHANAN NASIONAL MELALUI KEGIATAN BINTER GUNA TERWUJUDNYA RAK JUANG YANG
TANGGUH UNTUK PERTAHANAN NEGARA
DALAM MEWUJUDKAN
TUJUAN NASIONAL
oleh : Mukhtadi el Harry
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Umum. Ketahanan
Nasional suatu bangsa akan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang
bersifat intern maupun eksteren, yang bersifat interen diantaranya adalah Sejarah Perjuangan Bangsa, Geografi,
Demografi, Faktor Alam, Sumber Daya Manusia, Kondisi Sosial ; Idiologi, Politik,
Ekonomi, Sosial Budaya, Pertahanan dan Keamanan, sedangkan yang bersifat
eksteren adalah Globalisasi, Kemajuan Ilmu Pengetahuan, Isu Demokrasi dan Isu
HAM. Untuk menjaga stabilitas Nasionalnya maka suatu bangsa harus mampu
memberdayakan seluruh potensi nasionalnya agar menjadi RAK Juang yang tangguh
untuk membangun Pertahanan Negaranya guna
mencapai tujuan Nasionalnya. sehingga bukan hanya dapat mencegah dan menangkal
berbagai bentuk HTAG yang dari dalam maupun dari luar namun juga secara dinamis
dapat tumbuh dan berkembang sejajar dengan bangsa-bangsa lain didunia.
Belajar dari pahit
getirnya proses perjalanan sejarah Indonesia, sejak sebelum masa penjajahan,
masa penjajahan, saat revolusi kemerdekaan, setelah merdeka diawali dari
pemerintah Orde Lama, Orde Baru dan sekarang Orde Reformasi, seharusnya
menjadikan bangsa Indonesia semakin
dewasa dan dapat mengambil hikmahnya, sehingga tidak lagi melakukan hal-hal
yang akan merugikan, dan kedepan kita bangun Indonesia dengan berpedoman pada
Pancasila dan UUD 1945.
2.
Maksud dan Tujuan. Maksud
dan Tujuan tulisan ini untuk memahami
pentingnya pemberdayaan pengaruh Faktor interen dan eksteren terhadap
Ketahanan Nasional melalui kegiatan Pembinaan Teritorial guna terwujudnya RAK Juang yang tangguh
untuk Pertahanan Negaran dalam
mewujudkan tujuan Nasional.
3.
Rung lingkup dan tata urut. Ruang
lingkup tulisan ini adalah Pemberdayaan pengaruh Faktor interen dan eksteren terhadap
Ketahanan Nasional melalui kegiatan Pembinaan
Teritorial guna terwujudnya RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara dalam mewujudkan tujuan
Nasional, adapun tata urut tulisan ini adalah sbb :
a.
Pendahuluan
b.
Latar
Belakang
c.
Kondisi
Saat Ini
d.
Faktor-faktor
yang berpengaruh
e.
Kondisi
yang diharapkan
f.
Konsepsi/
Aktualisasi/ Implementasi/ Optimalisasi
g.
Penutup
4.
Metode dan Pendekatan Penulisan
ini berdasarkan atas studi kepustakaan dan informasi yang dihimpun dari media
cetak maupun elektronik dan pengamatan kondisi sosial masyarakat yang terus
berkembang, agar diperoleh gambaran yang komperhensif untuk menyusun tulisan
ini.
5.
Pengertian
a.
Ketahanan Nasional
Ketahananaan
Nasional adalah kondisi dinamis suatu bangsa yang terdiri atas ketangguhan
serta keuletan dan kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam
menghadapi segala macam dan bentuk hambatan ancaman tantangan dan gangguan baik
yang datang dari dalam maupun luar, secara langsung maupun tidak langsung yang
mengancam dan membahayakan integritas identitas kelangsungan hidup bangsa dan
negara serta perjuangan dalam mewujudkan tujuan perjuangan nasional.
Konsepsi
ketahanan nasional adalah keseimbangan dan keserasian dalam kehidupan sosial
melingkupi seluruh aspek kehidupan secara utuh menyeluruh berlandaskan falsafah
bangsa ideologi negara konstitusi dan wawasan nasional dengan metode Astagatra.
Konsepsi ketahanan nasional ini merupakan sarana untuk mewujudkan ketahanan nasional.
Ketahanan
Nasional mempunyai aspek utama yaitu Kesejahteraan dan Keamanan Kesejahteraan
dan Keamanan adalah dua aspek dari Ketahanan Nasional yang dapat dibedakan
tetapi tidak dapat dipisahkan. Sebab itu mengusahakan terwujudnya Ketahanan
Nasional hakikatnya merupakan satu proses membentuk Kesejahteraan dan Keamanan
buat bangsa dan negara. Ketahanan Nasional hanya dapat terwujud kalau meliputi
seluruh segi kehidupan bangsa yang biasanya kita namakan aspek sosial
kehidupan, meliputi (Ipoleksosbudhankam) Ideologi Politik Ekonomi Sosial Budaya dan Hankam. Juga
meliputi aspek alam yaitu Geografi, Penduduk dan Kekayaan Alam. Di lingkungan
Lembaga Ketahanan Nasional seluruh segi kehidupan bangsa itu dinamakan Asta
Gatra, terdiri dari Panca Gatra (Sosial) dan Tri Gatra (Alam).Seluruhnya itu
harus selalu diusahakan untuk memberikan perannya dalam perwujudan
Kesejahteraan dan Keamanan.
Ketahanan
nasional mengutamakan pengaturan kehidupan nasional dengan mendahulukan keadaan
dalam negeri sehingga dapat dikatakan bahwa ketahanan nasional bersifat
''inward looking'' meskipun tidak mengabaikan hubungan luar negeri sementara kekuatan nasional bersifat “outward
looking” Itu sebabnya ketahanan nasional harus tetap terpelihara untuk
menghadapi hambatan dan ancaman baik dari dalam maupun dari luar.
b. Bentuk – bentuk ancaman :
1)
Ancaman di dalam negeri contohnya
adalah pemberontakan dan subversi yang berasal atau terbentuk dari masyarakat
Indonesia.
2)
Ancaman dari luar negeri contohnya
adalah infiltrasi subversi dan intervensi dari kekuatan kolonialisme dan imperialisme
serta invansi dari darat laut dan udara oleh musuh dari luar negeri.
c. Asas ketahanan nasional adalah tata
laku yang didasari nilai-nilai yang tersusun berlandaskan Pancasil UUD 1945 dan
Wawasan Nusantara. Asas-asas tersebut meliputi :
1)
Asas kesejahteraan dan keamanan
Didalam kehidupan nasional berbangsa dan bernegara unsur
kesejahteraan dan keamanan ini biasanya menjadi tolak ukur bagi mantap atau
tidaknya ketahanan nasional.
2)
Asas menyeluruh terpadu
Artinya, ketahanan nasional mencakup seluruh aspek kehidupan
Aspek-aspek tersebut berkaitan dalam bentuk persatuan dan perpaduan secara
selaras serasi dan seimbang.
3)
Asas kekeluargaan
Bersikap keadilan kebersamaan kesamaan gotong royong tenggang
rasa dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
d.
Wawasan
Nusantara.
Wawasan Nusantara adalah cara pandang dan
sikap bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannnya secara utuh menyeluruh
dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara untuk mencapai tujuan
nasionalnya
Beberapa
Teori tentang Wawasan Nusantara yang dikemukakan oleh para ahli diantaranya
adalah :
1)
Wawasan
Benua : Bila daratan sudah dikuasai maka daratan maritim dapat dikuasai
(Sirbalfordjohn Machider)
2) Wawasan Nusantara : cara pandang bangsa
Indonesia mengenai diri dan tanah airnya sebagai negara kepulauan dengan semua
aspek kehidupan yang beragam ( Prof Dr Wan Usman )
3)
Kelompak
Kerja LEMHANAS 1999., Wawasan Nusantara adalah cara pandang dan sikap bangsa
Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang serba beragam dan bernilai
strategis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan
wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara
untuk mencapai tujuan nasional
4)
Global
Paradox menyatakan negara harus mampu memberikan peranan sebesar-besarnya kepada rakyatnya.
5)
Borderless
World dan The End of Nation State menyatakan
batas wilayah geografi relatif tetap tetapi kekuatan ekonomi dan budaya
global akan menembus batas tersebut. Pemerintah daerah perlu diberi peranan
lebih berarti.
6)
The
Future of Capitalism menyatakan strategi baru kapitalisme adalah mengupayakan
keseimbangan antara kepentingan individu dengan masyarakat serta antara negara
maju dengan negara berkembang.
e.
Wawasan
Nusantara terdiri dari Wadah (Countour) dan Isi (Content)
1)
Wadah
(Contour)
Wadah kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara meliputi seluruh wilayah Indonesia yang memiliki sifat
serba nusantara dengan kekayaan alam dan penduduk serta aneka ragam budaya.
Bangsa Indonesia memiliki organisasi kenegaraan yang merupakan wadah berbagai
kegiatan kenegaraan dalam wujud supra struktur politik dan wadah dalam
kehidupan bermasyarakat adalah berbagai kelembagaan dalam wujud infra struktur
politik
2)
Isi
(Content)
Adalah aspirasi bangsa yang berkembang
di masyarakat Cita-cita dan tujuan Nasional persatuan dan kesatuan dalam
kebhinekaan semua aspek kehidupan Nasional yang terdiri dari Cita-cita (Pembukaan UUD 1945 alinea ke-2) Sifatnya
(utuh, menyeluruh, manunggal) Cara kerjanya (pedoman, mawas diri, olah budi)
3)
Tata
laku (Conduct)
Hasil interaksi antara wadah dan isi
wasantara yang terdiri dari :
Tata
laku Bathiniah yaitu mencerminkan jiwa semangat dan mentalitas yang baik dari
bangsa Indonesia, sedangkan Tata laku Lahiriah yaitu tercermin dalam tindakan
perbuatan dan perilaku dari bangsa Indonesia.
Kedua tata laku tersebut mencerminkan
identitas jati diri/ kepribadian bangsa berdasarkan kekeluargaan dan
kebersamaan yang memiliki rasa bangga dan cinta terhadap bangsa dan tanah air
sehingga menimbulkan rasa nasionalisme yang tinggi dalam semua aspek kehidupan
nasional.
Dari
rumusan-rumusan diatas ternyata tidak ada satupun yang menyatakan tentang perlu
adanya persatuan sehingga akan berdampak konflik antar bangsa karena
kepentingan nasionalnya tidak terpenuhi. Dengan demikian Wawasan Nusantara
sebagai cara pandang bangsa Indonesia dan sebagai visi nasional yang
mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa masih tetap valid baik saat sekarang
maupun mendatang, sehingga prospek wawasan nusantara dalam era mendatang masih
tetap relevan dengan norma-norma global.
Bangsa
Indonesia yang berfalsafah dan beridiologi Pancasila menganut paham tentang
perang dan damai berdasarkan falsafah : “Bangsa Indonesia cinta damai, akan
tetapi lebih cinta kemerdekaan”. Dengan demikian wawasan nasional bangsa
Indonesia tidak mengembangkan ajaran kekuasaan dan adu kekuatan karena hal
tersebut mengandung persengketaan dan ekspansionisme.
Bangsa
Indonesia dalam menentukan wawasan nasional mengembangkan dari kondisi nyata
Indonesia dibentuk dan dijiwai oleh pemahaman kekuasan dari bangsa Indonesia
yang terdiri dari latar belakang sosial budaya dan kesejarahan Indonesia.
Untuk
itu pembahasan latar belakang filosofi sebagai dasar pemikiran dan pembinaan
nasional Indonesia ditinjau dari :
Pemikiran
berdasarkan falsafah Pancasila, Wawasan nasional merupakan pancaran dari
Pancasila oleh karena itu menghendaki terciptanya persatuan dan kesatuan dengan
tidak menghilangkan ciri, sifat dan karakter dari kebhinekaan unsur-unsur
pembentuk bangsa (suku bangsa, etnis dan golongan).
Pemikiran
berdasarkan aspek kewilayahan dalam kehidupan bernegara, geografi merupakan
suatu fenomena yang mutlak diperhatikan dan diperhitungkan baik fungsi maupun
pengaruhnya terhadap sikap dan tata laku negara yang bersangkutan.
6.
Dasar Hukum
Sistim pertahanan negara landasan
hukumnya adalah Pancasila sebagai landasan Idiil dan UUD 1945 sebagai landasan
Konstitusional.
Pembukaan UUD 1945 Alenia ke empat “Melindungi segenap Bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan Bangsa Ikut melaksanakan ketertiban Dunia”, dalam pelaksanaanya payung
hukum penyelenggaraan Pertahanan Negara adalah
a. UUD
1945 Pasal I, Pasal 30
b.
TAP
MPR. No : VII/MPR/2000 tth Sishankamrata
c.
UU
Nomor 3 / 1948 ttg Pertahanan RI
d.
UU
Nomor 29 / 1945 ttg Pertahanan RI
e.
UU
Nomor 20 / 1982 ttg ketentuan pokok Hankamneg
f.
UU
Nomor 3 / 2002 ttg Pertahanan Negara
g.
UU
Nomor 34/ 2004 ttg TNI
BAB. II
LATAR
BELAKANG PEMIKIRAN
20.
Umum. Ketahanan Nasional adalah hal mutlak
bagi bangsa Indonesia agar dapat mencegah (HTAG) Hambatan Tantangan Ancaman dan
Gangguan dari dalam maupun dari luar yang secara langsung ataupun tidak
langsung akan mengancam dan membahayakan integritas identitas kelangsungan
hidup bangsa dan negara serta perjuangan dalam mewujudkan tujuan perjuangan
nasional dan secara
dinamis dapat mempertahankan diri dan mengembangkan kelangsungan hidupnya agar
dapat tumbuh berkembang sejajar dengan bangsa-bangsa lain didunia.
Indonesia
yang membujur dari sabang sampai merauke, letak Geografisnya dilalui oleh garis katulistiwa dengan batas astronomi
sebelah Utara ± 6° 08’ lintang Utara, Selatan ±
11°15’ Lintang Selatan, Barat ±
94°45’ Bujur Timur,Timur ±
141°05’ Bujur timur, yang terdiri dari : 17.508 pulau besar dan pulau
kecil luas wilayahnya 5.193.250 km terdiri dari 2.027.087 km daratan dan
3.166.163 km perairan, sejumlah besar kepulauan dalam bentuk
"Archipelago" dikelilingi lautan, dengan latar belakang sejarah yang
panjang dan berbagai aspek Geografi, Demografi, Kekayaan alam, Sumber Daya
manusia, Idioelogo, Politik Ekonomi Sosial budaya Pertahanan dan keamanan,
kesemuanya akan sangat berpengaruh dalam
sistim pertahanan nasionalnya.
21.
Landasan / Dasar Pemikiran.
Berdasarkan faktor yang berpengaruh terhadap Ketahanan
Nasional baik yang bersifat interen (dari dalam) yaitu pengalaman pahit getirnya sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan aspek
kewilayahan dalam kehidupan bernegara, yaitu Geografi, Demografi, Kondisi Alam,
SDM (Sumber Daya Manusia) Kondisi Sosial (Ipoleksosbudhankam) maupun faktor
yang bersifat eksteren (dari luar) keduaanya merupakan suatu fenomena yang mutlak
diperhatikan dan diperhitungkan baik fungsi maupun pengaruhnya terhadap sikap
dan tata laku negara yang bersangkutan,
Pemikiran
berdasarkan falsafah Pancasila Wawasan Nasional merupakan pancaran dari
Pancasila, oleh karena itu menghendaki terciptanya persatuan dan kesatuan dengan
tidak menghilangkan ciri sifat dan karakter dari kebhinekaan unsur-unsur
pembentuk bangsa (suku bangsa, etnis, bahasa dan golongan).
Bangsa Indonesia yang
berfalsafah dan beridiologi Pancasila menganut paham tentang perang dan damai
berdasarkan falsafah : “Bangsa Indonesia cinta damai, akan tetapi lebih cinta
kemerdekaan”. dengan demikian wawasan nasional bangsa Indonesia tidak
mengembangkan ajaran kekuasaan dan adu kekuatan karena hal tersebut mengandung
persengketaan dan ekspansionisme.
22.
Hal-hal lain
Dinamika
kehidupan Politik dalam hubungan Internasional baik yang bersifat Regional
maupun Multilateral yang senantiasa berubah dari waktu kewaktu juga harus dicermati
secara seksama agar bangsa Indonesia tidak kehilangan arah dalam menentukan
sikap politik maupun demi kepentingan pembangunan nasionalnya, karena di era
globalisasi keputusan suatu negara terkadang berpengaruh secara signifikan
dengan negara lainnya.
BAB. III
KONDISI SAAT
INI
10. Umum. Indonesia
sebagai negara berkembang yang terletak di antara dua benua besar yaitu benua Asia dan benua Australia dan diantaraa
samudra Pasifik dan samudra Indonesia yang terdiri dari 17.508 pulau besar dan
pulau kecil luas wilayahnya 5.193.250 km terdiri dari 2.027.087 km daratan dan
3.166.163 km perairan dilalui oleh garis
katulistiwa dengan batas astronomi sbb : Sebelah Utara ±
6° 08’ Lintang Utara, Selatan ±
11°15’ Lintang Selatan, Barat
± 94°45’ Bujur Timur, Timur ±
141°05’ Bujur timur dengan
jumlah penduduk cukup besar, tingkat penyebaran tidak merata sebagian besar ada
di Pulau Jawa dan di Ibu kota negara, kota Propinsi, kota kabupaten dan
kota-kota besar lainnya dengan tingkat pendidikan, kesehatan maupun
kesejahteraan masih rendah bila dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain bahkan
dengan bangsa Asia sekalipun semisal Jepang, Korea, Singapura dan Malaysia,
ditengah persaingan Global, dan percaturan Politik Dunia, agar tidak terombang
ambing oleh arus perkembangan dan perubahan maka Wawasan
Nusantara mutlak harus dimiliki sebagai akibat Doktrin Kebutuhan (Doctrine of
Necessity) dan Doktrin Hak Mempertahankan Diri (Doctrine of Right of Self
Prevention).
11.
Permasalahan
Perermasalahan yang saat ini dihadapi bangsa Indonesia secara
kualitatif adalah :
a)
Kurang
memahami sejarah perjuangan bangsa sehingga menimbulkan rendahnya Nasionalisme (subyektif)
b)
Pemanfaatan
posisi strategis geogrfis belum optimal, sehingga belum menguntungan bagi
kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negara
c)
Sumber
daya alam belum dikelola dengan baik, sehingga menimbulkan rusaknya sumber daya
alam dan belum dapat ddinikmati untuk kemakmuran bangsa Indonesia sebagaimana
yang dimanatkan dalam UUD 1945.
d)
Penyebaran
penduduk belum merata, sehingga menimbulkan masalah sosial, menimbulkan kantong-kantong
kemiskinan dan mengurangi kemampuan negara dalam memanfaatkan kekayaan alam.
e)
SDM
masih rendah kualitasnya sehingga tidak dapat digunakan sebagai modal
pembangunan baahkan menjadi beban pembangunan
f)
Pancasila
belum diamalkan secara murni dan konsekwen sehingga timbul masalah dalam
kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara
g)
Politik
multi partai, sehingga menimbulkan biaya politik tinggi inefvisiensi dan
instabilitas.
h)
Pertumbuhan
ekonomi masih rendah, sehingga menimbulkan rendahnya tingkat kesejahteraan dan
kemajuan bangsa
i)
Rendahnya
ketahanan Sosial Budaya sehingga menimbulkan rentan terhadap budaya asing dan
mudah disusupi budaya yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia.
j)
Lemahnya
sistim Pertahanan dan Keamanan, sehingga sangat rentan dalam menghadapi (HTAG)
Hambatan Tantangan Ancaman dan Gangguan
k)
Belum
siapnya bangsa Indonesia dalam menghadi Globalisasi, sehingga menimbulkan
masalah sosial hampir disetiap aspek kehidupan
l)
Pesatnya
perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi yang tidak sebanding dengan
tingkat kualitas SDM, sehingga terkadang berdampak negataif dan bangsa
Indonesia lebih bersifat sebagai Objek daripada Objek (korban)
m)
Isu
Demoratisasi yang sering dikampanyekan negara-negara maju sering berdampak
negatif dan menjadi kendala dalam menjalankan politik luar negerinya.
n)
Isu
HAM, yang terus dikampanyekan oleh negara-negara maju, terkadang berdampak negatif dan menjadi kendala dalam
menjalankan politik luar negerinya.
BAB.
IV
FAKTOR-FAKTOR
YANG BERPENGARUH
12.
Umum Faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan Nasional
Indonesia baik yang bersifat interen maupun eksteren, yang bersifat intern diantaranya sejarah
perjuangan bangsa letak Gegeografi,
Demografi, Kondisi Alam, Sumber Daya Manusia, Ipoleksosbudhankam, sedangkan
yang bersifat ekstern diantaranya, Era Globalisasi, kemajuan Ilmu pengetahuan
dan tekhnologi, percaturan politik Regional maupun multilateral, isu demokrasi
dan HAM, yang secara langsung atau tidak langsung akan berpengaruh terhadap
Ketahanan Nasional Bangsa Indonesia untuk
itu pemberdayaan berbagai Faktor yang berpengaruh terhadap Ketahanan Nasional
melalui kegiatan Binter guna terwujudnya
RAK Juang yang tangguh untuk kepentingan Pertahanan Negara adalah hal mutlak
agar bangsa Indonesia dapat menghadapi segala macam dan bentuk
hambatan ancaman tantangan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun luar
yang secara langsung maupun tidak langsung mengancam dan membahayakan
integritas identitas kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan
dalam mewujudkan tujuan perjuangan nasional dan dapat mempertahankan dan mengembangkan kelangsungan
hidupnya agar dapat sejajar dengan bangsa-bangsa lain didunia.
13.
Faktor Interen.
a.
Sejarah
Perjuangan Bangsa.
1)
Masa
Sebelum Penjajahan
Masa
sebelum penjajahan, bangsa Indonesia, terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil yang
saling berebut pengaruh dan kekuasaan, baik di lingkungan internal kerajaan
maupun eksternal antar kerajaan, sehingga dengan kondisi semacam itu maka
hampir dapat dipastikan ketahanan masing-masing kerajaan menjadi masalah yang
pelik, meskipun dalam sejarahnya pernah ada suatu kerajaan yaitu Kerajaan Maja
Pahit dengan rajanya yang bernama Hayam Wuruk dan Patihnya yang sangat terkenal
dengan Sumpah Palapanya bernama Gajah Mada, berusaha menyatukan
kerajaan-kerajaan di Nusantara, namun kondisi semacam ini ternyata tidak stabil
dan tidak dapat menjadikan Kerajaan-kerajaan saat itu bersatu, buktinya sangat
dengan mudah dikuasai Penjajah.
2)
Masa
Penjajahan
VOC datang awalnya sebagai pedagang,
namun situasi dan kondisi saat itu menggoda VOC untuk menguasai Nusantara, ini
membuktikan bahwa betapa lemahnya Ketahanan saat itu, dimana antara kerajaan
satu dengan yang lainnya sangat mudah diadu domba, bahkan antar warga kerajaan
dan para pembesar kerajaan mudah diadu domba dan silau akan kekuasaan, situasi
semacam inilah yang dimanfaatkan dengan baik oleh VOC, sehingga yang tadinya
sebagai pedagang berubah menguasai hampir segala aspek kehidupan bahkan
pemerintahan, dan akhirnya resmilah Pemerintah Belanda sebagai Penjajah, dan
ironisnya Penjajahan ini berlangsung 3,5 abad lamanya, pertanyaannya apakah
saat itu tidak ada perlawanan ?, tentunya ada, tapi persoalannya hampir
perlawanan yang gigih oleh para pejuang yang mempunyai keberanian dan kesadaran
akan harga diri dan masa depan bangsanya,
ternyata dapat dengan mudah dipatahkan oleh Penjajah, apa rahasianya ?, minimal
ada dua hal penyebab kegagalan perlawanan saat itu yaitu
Pertama selain faktor ketidak
seimbangan kemampuan, tapi yang sangat mendasar adalah, selalu ada pengkhianatan,
sehingga para pejuang sangat dengan mudah dipatahkan, bahkan tidak perlu dengan
perlawanan bersenjata cukup dengan mengadu domba.
Kedua Perjuangan itu berdiri sendiri,
sifatnya masih kedaerahan sehingga sangat mudah dipatahkan, bahkan bukan hal
yang sulit bagi Penjajah untuk menghentikan perlawanan para Pejuang, hal
semacam ini menggugah sebagian kaum terpelajar saat itu untuk merubah strategi
perjuangannya, sehingga pada tanggal 20 Mei 1928 para pemuda bersumpah di
sebuah tempat di jalan Kramat Raya 24 yang sekarang kita kenal dengan gedung
Sumpah Pemuda, sejak saat itulah strategi Perjuangan mulai di tata secara
modern, sehingga peristiwa tersebut dikenal dengan Kebangkitan Nasional, bahkan
Dunia tidak terkecuali Pemerintah Hindia Belanda tersentak dan akhirnya
berkomentar “Bangsa Indonesia digambarkan bagaikan gadis yang baru tersadar
dari tidurnya” komentar ini tidak berlebihan, karena 3,5 abad lamanya bagaikan
terlelap tidur dibawah pengawasan, penindasan
dan kekuasaan Penjajah,
Lepas dari cengkeraman Belanda, bukan
berarti merdeka, karena bangsa yang mengaku saudara tua dari Asia ternyata jauh
lebih kejam dari pendahulunya meskipun waktunya
relatif singkat 3,5 tahun dalam cengkraman Jepang tapi dampaknya sungguh
luar biasa, untunglah strategi perjuangan
sudah bersifat Nasional, akhirnya Pemerintah Jepangpun menjanjikan suatu
Kemerdekan, maka dibentuklah BPU PKI dan pada sidang pertamanya yang
dibicarakan adalah; “Nanti kalo merdeka, apa dasar negara kita” luar biasa
sikap yang patut diteladani oleh generasi penerusnya, para pejuang terdahulu
saat dijanjikan kemerdekan, mereka tidak menuntut pangkat, kedudukan, jabatan
atau fasilitas apapun yang bersifat untuk kepentingan pribadi dan golongannya,
tapi mereka justru yang dipikirkan untuk kepentingan Nasionalnya, sungguh luar
biasa, nilai-nilai semacam inilah yang seharusnya ditumbuh kembangkan dan
dikobarkan disetiap dada bangsa Indonesia, sehingga rasa Nasionalismenya
menghujam sampai kedalam.
3)
Masa
Perjuangan Kemerdekaan.
Kemerdekaan Indonesia tidak turun dari
langit, tidak juga belas kasihan Jepang, meskipun Jepang pernah menjanjikan
Kemerdekaan, tapi kemerdakaan ini direbut diperjuangkan dengan harta benda,
darah dan airmata, bahkan dengan jiwa dan raga, lihatlah betapa gigihnya para
pejuang kita yang tidak kenal menyerah mereka bersemboyan “Merdeka atau Mati” ,
meskipun mereka juga sadar tidak akan menikmati kemerdekaan ini, tapi demi
harga diri, demi masa depan suatu bangsa
demi anak cucu generasi penerus bangsa, mereka berjuang dengan semangat kebangsaan
yang luar biasa sehingga dengan bermodalkan bambu runcing mampu menghadapi
musuh yang jauh lebih tangguh, maka saat berita bertekuk lututnya Jepang
ditangan tentara sekutu, tanpa pikir panjang moment ini dimanfaatkan oleh para
Pemuda untuk meminta Sukarno Hatta sebagai rasa hormat dan pengakuan para
Pemuda terhadap para Pemimpinnya (Pejuangnya) untuk segera memproklamirkan
kemerdekaan Indonesia, meskipun tadinya ada perbedaan cara pandang, namun toh
akhirnya Sukarno Hatta bersedia untuk memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia
tepatnya tanggal 17 Agustus 1945. Berarti sejak saat itu Indonesia secara
defacto dan dejure telah merdeka, dan saudara kita yaitu Mesir adalah negara
pertama yang mengakui Kemerdekaan Indonesai, tentunya bangsa Indonesia tidak akan
pernah melupakan budi baik bangsa Mesir.
4)
Masa
Setelah Merdeka.
Sejak merdeka sampai dengan saat ini,
minimal tiga Orde telah dilalui, yaitu: Orde Lama, Orde Baaru, Orde Reformasi
yang masing-masing mempunyai sepsifikasinya sendiri-sendiri yang secara langsung
atau tidak langsung berpengaruh terhadap Ketahanan Nasionalnya.
(a) Orde
Lama (1945-1966), periode ini tentunya paling sulit, negara yang baru merdeka
harus tetap survive dengan segala keterbatasan dan kekurangannya, berbagai
persoalan harus dihadapi baik dari dalam maupun dari luar, hal ini lah yang
seharusnya mengilhami bangsa Indonesia dalam membangun system ketahanan
Nasionalnya, sehingga berbagai
pengalaman pahit di masa lalu yang
hampir saja meluluh lantakan bangsa Indonesia tidak akan terulang lagi,
(b) Orde
Baru (1966-1998), periode ini bangsa Indonesia sudah mulai membangun,
pembangunan manusia seutuhnya yang diamanatkan oleh UUD 1945 mulai
dilaksanakan, namun HTAG baik dari dalam maupun dari luar silih berganti,
sehingga Pemerintahan Orde baru yang direncanakan akan tinggal landas harus
jatuh berkeping-keping, dan digantikan dengan Pemerintahan Reformasi yang
diharapkan dapat menuju keadaan yang lebih baik
(c) Orde
Reformasi (1998- …) periode ini yang lahirnya dimotori oleh gerakan Mahasiswa
dan disambut gegap gempita oleh sebagian besar bangsa Indonesia, banyak hal
yang telah dilakukan, namun tidak sedikit disana sini masih ada persoalan, dan
yang paling menonjol adalah tidak adanya kepemimpinan Nasional yang dapat
mempersatukan kehidupan berbangsa dan bernegara, yang seharusnya secepat
mungkin bangsa Indonesia sadar, bahwa kondisi semacam ini sangat membahayakan
ketahanan nasional suatu bangsa dalam menghadapi HATAG dalam mempertahankan dan
mengembangkan kelangsungan hidupnya.
Melalui Pembinaan Teritorial kita
harus mampu memberdayakan sejarah perjuangan bangsa untuk meningkatkan kualitas
Nasionalisme bangsa sebagai RAK Juang yang tangguh guna Pertahanan Negaraa demi
tercapainya tujuan Nasionalnya
b) Aspek
yang berpengaruh
1)
Letak
Geografis.
Geografis negara Indonesia terletak diantara benua
Asia dan benua Australia dan diantaraa samudra Pasifik dan samudra Indonesia
yang terdiri dari 17.508 pulau besar dan pulau kecil luas wilayahnya 5.193.250
km terdiri dari 2.027.087 km daratan dan 3.166.163 km perairan dilalui oleh
garis katulistiwa dengan batas astronomi sebelah Utara ± 6°
08’ Lintang Utara, Selatan ± 11°15’
Lintang Selatan, Barat ± 94°45’ Bujur Timur, Timur ± 141°05’ Bujur timur
(a)
Posisi
Silang.
Negara
Indonesia yang berbentuk kepulauan besar terletak pada persimpangan jalan atau
jalan silang antara dua benua dan samudera yang pengaruh silangnya mempunyai
impact-impact ideologis, politis, sosial ekonomis, militer maupun demografis.
Ketahanan
Nasional kita mendapat tantangan yang kuat terhadap arus lalu lintas silang,
sehingga hanya ada dua kemungkinan yaitu survive atau tenggelam dilanda arus.
Dan Ketahanan Nasional dapat dijamin apabila persyaratan Integrasi Nasional
dapat dipenuhi. Untuk itulah maka mutlak diperlukan adanya Wawasan Nusantara
yang dianggap mampu untuk membentuk dan memelihara Integrasi Nasional.
(b)
Faktor -
Faktor Perbatasan.
Sehubungan
dengan isi dan tujuan Undang-Undang No. 4 Tahun 1960 Peraturan Pemerintah No. 8
Tahun 1970 yang melalui "Teori Kerukunan" Letak geografis Negara
Indonesia yang berbatasan dengan wilayah-wilayah negara Tetangga baik
perbatasan-perbatasan yang berupa daratan, laut territorial maupun perbatasan
wilayah udara, harus dimanfaatkan dan dikembangkan dalam bentuk politik bertetangga
baik. Hal ini terus diusahakan untuk mendapatkan pengakuan langsung ataupun
tidak langsung dari lingkungan dunia Internasional, sehingga maksud Pemerintah
Indonesia dalam usahanya untuk memperjuangkan terwujudnya suatu "Keutuhan
Nusantara" dapat dicapai, sehingga akan mempermudah Wawasan Nusantara
untuk membentuk dan membina Integrasi Nasional dalam rangka menciptakan
Ketahanan Nasional Bangsa Indonesia.
2)
Demografi
Bangsa
Indonesia menyebar diseluruh wilayah Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dan
dikelilingi lautan dalam bentuk "Archipelago", namun sayangnya
penyebarannya tidak merata, terkonsentrasi di Ibu Kota Negara, Ibu Kota
Propinsi, Kabupaten dan kota-kota besar lainnya, dengan tingkat pembangunan,
pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan yang tidak merata, ini menjadi masalah
yang serius didalam membangun sistim ketahanan Nasionalnya, melalui Pembinaan
Teritorial kita berdayakan kondisi Demografi ini menjadi suatu kekuatan untuk
menjadikan RAK Juang yang tangguh.
3)
Faktor Alam
(a)
Kekayaan
Alam
Amanat UUD 1945 pasal, bahwa kekayaan
alam dikuasai oleh negara dan sebesar-besarnya digunakan untuk kesejahteraan
rakyatnya, belum sepenuhnya dapat diwujudkan, karena ada beberapa kendala
diantaranya tidak dimanaj dengan baik dan benar sehingga, kekayaan alam masih
sekedar menjadi Potensi tapi belum menjadi Potensial, bahkan ada kecenderungan
kekayaan alam justeru potensial sebagai sumber persoalan yang sangat tidak
kondusif untuk pembangunan ketahanan Nasional.
(b)
Kondisi
Alam
Kondisi Alam Indonesia yang terdiri
dari ribuan pulau dan dikelilingi lautan, daratannya sebagian terbuka dan
tertutup berbukit-bukit dengan hutan lebat, cuaca mudah berubah dengan dua
musim, kemarau dan penghujan, ini merupakan medan yang sangat strategis dalam
sistim pertahanan, lihat saja Vietnam telah berhasil memanfaatkan kondisi
alamnya untuk sistim pertahanannya sehingga tentara Amerika Serikatpun tidak
berdaya dibuatnya, apa lagi Indonesia yang terkenal strategi Perang Gerilyanya,
seharusnya mampu menjadikan alam ini sebagai basis pertahanan yang kokoh dalam
menghadapi HTAG yang datang dari dalam maupun dari luar.
4)
Kondisi
Sosial
Kondisi Sosial bangsa Indonesia yang
terdiri dari Ipoleksosbudhankam sangat berpengaruh terhadap pembangunan sistim
Ketahann Nasionalnya
(a)
Idiologi
Pancasila sebagai Idiologi dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa,
sebagai pemersatu Indonesia yang multi etnik, bisa dibayangkan seandainya kita
tidak punya Pancasila, tugas kita mengamalkan Pancasila dalam kehidupaan
sehari-hari baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara
murni dan konsekwen.
(b)
Politik
Situasi Politik saat ini yang
cenderung menganut kebebasan, disatu sisi memberi ruang untuk mengeluarkan
pendapat dan aspirasi, sehingga siapapun dapat berpartisipasi dalam mewujudkan
Indonesia yang lebih baik lagi, namun disisi yang lain kebebasan yang tanpa
batas cenderung anarkis dan destruktif sehingga sangat tidak kondusif untuk
membangun ketahanan Nasional.
UU No. 11 tentang TNI POLRI yang memposisikan
TNI POLRI kembali ke barak tidak
disibukkan dengan hiruk pikuknya perpolitikan, menjadi peluang untuk menempa
dirinya agar semakin Profesional, namun hal ini janganlah membuat TNI POLRI
menjauhkan diri dari perkembangan Politik, yang dilarang berpolitik praktis,
bukan seluruh aktivitas Politik, TNI POLRI harus ada dimana-mana karena politik
TNI adalah Politik Negara, yang harus mengawal, menjaga, melindungi negara dari
HTAG dari dalam maupun dari luar.
(c)
Ekonomi
Fluktuasi
ekonomi dunia akan sangat berpengaruh terhadap ekonomi dalam negeri, pasar
bebas akan memaksa para pelaku bisnis agar bertindak kompetitif, naiknya harga
minyak dunia akan semakin meningkatnya subsidi BBM yang akan berpengaruh
terhadap APBN, tingkat pengangguran yang tinggi akan memicu kejahatan, bangsa
Indonesia harus mensikapi dengan bijak, agar kebijakan Ekonominya dapat memicu
pertumbuhan.
(d)
Sosial
Budaya
Sosial Budaya bangsa Indonesia yang
Adi Luhung, mulai tidak diminati oleh generasi muda, kurangnya sosialisasi dan
pemahaman budaya terhadap generasi muda, berakibat fatal akibatnya generasi
muda kita lebih menerima dan menyukai budaya asing dari pada budayanya sendiri,
dilain pihak negara tetangga sering mengklaim budaya kita sebagai miliknya, untuk
itu perlu adanya Ketahanan Nasional dibidang budaya agar mampu memfilter apakah
budaya asing pantas dan sesuai atau tidak.
(e)
Hankam
Dalam hal Pertahanandan Keamanan, UUD 1945
pasal 30 mengamanatkan bahwa setiap warga negara mempunyai kewajiban membela
negara, namun UU No. secara tegas memisahkan antara pertahanan dan keamanan,
Pertahanan menjadi tanggung jawabnya TNI sedangkan Keamanan menjadi tanggung
jawabnya POLRI. Hal ini berimplikasi adanya pembagian tugas, padahal pertahan
& keaman adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Sejarah Perjuangan bangsa dan berbagai
aspek yang berpengaruh terhadap
ketahanan Nasional bagi Bangsa Indonesia seharusnya dipandang sebagi satu
kesatuan yang utuh menyeluruh yang disebut wawasan Nusantara.
Wawasan Nusantara sebagai
landasan pandangan hidup Bangsa Indonesia telah mendapatkan kemantapannya
setelah melalui proses pemikiran-pemikiran berdasarkan falsafah Pancasila dan
proses pengolahan yang didasari sejarah perjuangan bangsa dan berbagai aspek
yang berpengaruh telah dikaji
berdasarkan sendi-sendi Ilmu Pengetahuan maupun pengalaman-pengalaman,
baik yang bersumber pada pengalaman riil
bangsa Indonesia sendiri maupun pengalaman-pengalaman bangsa-bangsa lain
di dunia. Sehingga kondisi semacam ini dapat dimanfaatkan untuk menciptakan RAK
Juang yang tangguh agar bangsa Indonesia mampu mengantisipasi dan menangkal
sejak dini setiap HTAG yang timbul dari dalam maupun dari luar yang secara
langsung atau tidak langsung akan mengancam Integritas identitas bangsa
sehingga bangsa Indonesia tetap survive untuk mempertahankan dan mengembangkan
kelangsungan hidupnya secara dinamis untuk mencapai tujuan nasionalnya sesuai
yang diamanatkan UUD 1945.
14.
Faktor Ekstern
a.
Globalisasi,
Robert Koehane dan Joseph,
menggambarkan Globalisasi adalah apa yang mereka sebut dengan istilah
globalisme, yaitu sebuah situasi dunia yang melibatkan jaringan-jaringan
interdependensi pada jarak yang multikontinental, lebih jauh mereka mengatakan
ketergantungan itu dalam lima bidang yaitu, ekonomi, budaya, masyarakat,
lingkungan dan militer, Globalisasi adalah konsep elastis dan dapat dirumuskan
melalui berbagai sudut pandang, tidak sedikit perdebatan mengenai terminology
globalisasi, namun globalisasi secara umum dapat diterima sebagai suatu proses
menyatunya masyarakat dunia bergabung sebagai suatu masyarakat tunggal dunia
(global society), Proses Globalisasi
terjadi dibeberapa dimensi kehidupan dengan berbagai konsekwensinya, dalam
dimensi ekonomi, digambarkan adanya
pasar bebas dengan terjadinya peningkatan yang tajam dalam perdagangan
internasional, investasi, arus capital, peran institusi multilateral, institusi
keuangaan dan kerjasama global melakukan
aktivitasnya tanpa ikatan nasional, dalam dimensi militer semakin meningkatnya imperialism dan persaingan geopolitik
kekuatan-kekuatan besar, system aliansi Internasional dan struktur keamanan
Internasional, munculnya perdagangan senjata dunia, difusi tekhnologi militer
diseluruh dunia dan institusionalisasi rezim global dengan hak hukum atas
hubungan militer dan keamanaan, globalisasi militer juga bisa dipahami sebagai
sebuah proses yang menciptakan perkembangan secara ekstensif dan instensif dari
hubungan militer diantara unit-unit politik yang ada dalam system dunia,
termasuk perluasan inovasi teknologi militer yang ujungnya menyusun kembali
sebuah single geostrategic, meskipun menyisakan berbagai perdebatan terminologi, namun globalisasi disepakati
memberikan alat yang berguna secara konseptual, dalam konteks untuk
progresifitas dari interaksi transnasional dalam banyak bidang. Namun
Globalisasi juga dapat dikatakan sejumlah isu yang awalnya merupakan wilayah
nasional, secara natural dikenal dan menjadi isu global, karena adanya
peningkatan kapabilitas memindahkan persoalan melintasi batas wilayah,
konsekwensinya adalah “mutual vulnerability” Keputusan yang diambil oleh suatu
negara seringkali menimbulkan konsekwensi dimana-mana (negara lain) Indonesia sebagai negara berkembang harus
tetap survive bahkan bangkit dalam menghadapi era Globalisasi, melalui
pembinaan Teritorial kita berdayakan sehingga menjadi RAK Juang yang tangguh
guna terwujudnya Pertahanan Negara demi tercapainya tujuan Nasionalnya.
b.
Ilmu
Pengetahuan & Tekhnologi.
Kemajuan Ilmu pengetahuan dan
Tekhnologi seharusnya dapat meningkatkan kesejahteraan bangsa, namun apa bila
kualitas sumber daya manusianya tidak seiring, maka bangsa tersebut hanya akan
menjadi obyek tidak akan menjadi subyek sehingga peningkatan kualitas sumber
daya manusia menjadi mutlak untuk mengimbangi pesatnya kemajuan Ilmu
Pengetahuan dan tekhnologi terutama dalam percaturan pergaulan dunia yang serba
canggih. Negara-negara maju yang didukung sumber daya manusia handal telah
dengan leluasa menikmati kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, sedangkan negara berkembang justeru
menjadi korban kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, ironi memang tatanan
dunia semacam ini, tapi hal ini tidak bisa hanya diratapi tapi kita harus
bangkit untuk merebut Ilmu pengetahuan dan Tekhnologi, karena tidak ada satupun
negara yang rela memberinya dengan Cuma-Cuma. Melalui Pembinaan Teritori
dibidang Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi kita berdayakan menjadi RAK Juang yang
tangguh guna Pertahanan Negara demi tercapainya tujuan Nasionalnya.
c.
Politik
Internasional
Dalam
kancah pergaulan Internasional baik secara Regional & Multilateral
Indonesia harus tetap konsisten memainkan peran politiknya sesuai kebijakan
politik luar negirinya bebas aktif namun harus lebih tegas terutama dalam
pergaulan Bilateralnya guna melindungi kepentingan Nasionalnya, terutama dengan
negara tetangga yang bersinggungan langsung dengan perbatasan wilayah
Indonesia, kepentingan Nasional harus tetap menjadi prioritas utama disamping
kepentingan Internasionalnya. Indonesia dengan wilayah yang sangat luas dan
jumlah penduduk yang besar tentunya sangat diperhitungkan oleh bangsa-bangsa
lain didunia, maka bangsa Indonesia harus cerdas dalam memainkan peran
politiknya di percaturan pergaulan politik dunia yang sarat akan kepentingan
masing-masing negara, melalui pembinaan teritorial harus mampu diberdayakan
sehingga menjadi RAK Juang yang tangguh guna Pertahanan Negara duna mencapai
tujuan Nasionalnya.
d.
Isu
Demokrasi
Isu
Demokrasi yang sering dihembuskan oleh negara Adidaya (Amerika Serikat)
terutama dalam menyoroti negraa-negara berkembang termasuk Indonesia, akan
sangat berpengaruh dalam percaturan politik Internasional, di Era Reformasi,
Indonesia sudah melakukan berbagai upaya perbaikan Demokrasi, diantaranya
adanya Transparansi Penegakan hukum penegakan HAM Kebebasan pers Kebebasan
mengemukakan pendapat, Civil Sociati bahkan Pemilihan Presiden secara laangsung
dengan cara-cara yang sangat demokratis, ini menandakan adanya loncatan yang
luar biasa dalam penegakan Demokrasi di Indonesia, hal inipun di akui oleh
dunia Internasional termasuk Amerika meskipun disana-sini masih ada saja
catatan kecil, melalui pembinaan teritorial harus mampu memberdayakan Isu
Demokrasi sehingga menjadi RAK Juang yang tangguh guna Pertahanan Negara dalam
mewujudkan tujuan Nasionalnya.
e.
Isu
HAM
Hak
Azasi Manusia adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, Isu negatif
tentang pelaksanaan HAM di Indonesia yang digembar-gemborkan oleh dunia barat
khususnya Amerika menjadi kendala bagi Indonesia dalam kiprah Politik Luar
negerinya, tugas kita berusaha untuk memperbaiki dan mengurangi kesalahan seminimal
mungkin tentang pelenggaran HAM, ada
tiga pokok persoalan Hak Azasi Manusia di Indonesia yaitu :
1)
Pelanggaran
yang sudah terjadi, yang harus dicarikan solusinya,
2)
Pencegahan
agar tidak terulang lagi terjadinya suatu pelanggran HAM.
3)
Penghormatan
HAM dalam kehidupan sehari-hari, dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
Maka pembinaan Teritorial yang harus
dilakukan dalam masalah HAM minimal adalah :
(1)
Semua
berkewajiban Menegakan, Memenuhi, Menghormati HAM, untuk itu terhadap kasus
pelanggaran yang sudah terjadi, harus diselesaikan secara bijaksana, adil dan
jujur dengan Konsep “Menyelesaikan
masalah tanpa menimbulkan masalah”
(2)
Mengupayakan mengatasi persoalan HAM, salah satunya adalah
melalui Pencegahan dengan konsep “Mencegah
lebih baik dari pada mengobati’ dan tidak mentolerir pelanggaran HAM
sekecil apapun yang dilakukan oleh siapapun
(3)
Mengusahakan
Penghormatan HAM dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat, Berbangsa dan
Bernegara dengan konsep “hidup saling menghormati jauh lebih baik dari pada saling memusuhi”
Melalui pembinaan teritorial harus
mampu memberdayakan Isu HAM sehingga menjadi RAK Juang yang tangguh guna
Pertahanan Negara guna mencapai tujuan Nasionalnya.
BAB. V
KONDISI YANG DIHARAPKAN
15.
Umum. Berdasarkan
uraian tersebut, maka wilayah pertahanan didarat dengan berbagai aspek yang mempengaruhinya, baik
yang bersifat Interen diantaranya sejarah perjuangan bangsa, letak Geografi,
Demografi, Ipoleksosbudhankam, maupun yang bersifat eksteren diantaranya ; era
globalisasi, kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi, Percaturan Politik
dunia, Isu Demokrasi dan HAM, maka
melalui kegiatan Binter kita berdayakan guna terwujudnya RAK juang yang
tangguh untuk kepentingan pertahanaan negara guna tercapainya tujuan
Nasionalnya.
16.
Kondisi actual Indonesia
adalah negara berkembang yang sedang giat-giatnya membangun, namun kalau
situasi dan kondisinya tidak mendukung maka sia-sialah segala upaya yang
dilakukan, untuk itu stabilitas menjadi sangat penting sebagai prasyarat
pembangunan, di era Reformasi alam kebebasan terbuka begitu lebar, masyarakat
diberi kesempatan dan peluang seluas-luasnya untuk berpartisipasi dalam
pembangunan, namun yang perlu diingat jangan sampai menyalah gunakan arti
kebebasan itu sendiri karena akibatnya justeru fatal, Demokrasi kita telah
diatur secara jelas di Pancasila yaitu Sila ke empat “Kemanusiaan yang dipimpin
oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”, artinya Demokrasi kita
tetap harus berpedoman pada Pancasila terutama sila ke empat yang intinya
adalah “Musyawarah mufakat”, meskipun kebebasan tidak dilarang di negara yang
berdasar Pancasila, tapi kebebasan yang dimaksud adalah bebas yang disertai
tanggung jawab, artinya mengemukakan pendapat itu boleh saja, asal jangan
sampai pendapatnya justru akan memperkeruh masalah atau menimbulkan masalah,
karena hal ini akan mengganggu stabilitas nasional dan akhirnya akan mengganggu
Pembangunan Nasional
17.
Kondisi yang diharapkan Begitu
banyak persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia, tapi yakinlah kalau kita punya
semangat dan tekad yang kuat dan tetap bersatu padu dengan semangat Pancasila,
UUD 1945, bangsa Indonesia pasti dapat menyelesaikan berbagai persolan yang
dihadapi.
Tulisan
ini mencoba merumuskan berbagai persoalan yang dihadapi dan mencari solusi
penyelesaiannya, minimal ada dua faktor yang berpengaruh terhadap ketahanan
nasional Bangsa Indonesia, yaitu faktor interen dan eksteren, faktor interen
diantaranya terdiri dari ; Sejarah perjuangan bangsa, Geografi, demografi, SDM,
Ipoleksosbudhankam, sedangkan faktor
eksteren diantaraanya terdiri dari ; Globalisasi, Perkembangan Ilmu Pengetahuan
dan Tekhnologi, Isu Demokrasi dan Isu HAM, yang kedua faktor tersebut, suka
atau tidak suka ternyata berpengaruh terhadap Ketahanan Nasional Bangsa
Indonesia, agar pengaruh kedua faktor tersebut berdampak positif bagi ketahanan
Nasional Bangsa Indonesia solusinya adalah ; Mengoptimalkan atau memberdayakan
kedua faktor tersebut melalaui kegiatan Pembinaan Teritorial agar menjadi RAK
Juang yang tangguh untuk mewujudkan Ketahanan Nasional guna tercapainya tujuan
Nasional sebagaimana yang diamanatkan UUD 1945.
BAB. VI
AKTUALISASI / KONSEPSI / IMPLEMENTASI /
OPTIMALISASI
18.
Umum Aktualisasi
dari pemberdayaan potensi Darat melalui (Binter) Pembinaan Teritorial guna
mewujudkan RAK Juang` yang tangguh untuk ketahanan nasional, Pembinaan
teritorial dibidang Geografi Demografi Kondisi alam Sumber Daya Manusia Ipoleksosbudhankam
yang harus dilakukan oleh Petugas Binter Pejabat terkait dan seluruh bangsa
Indonesia sesuai pasal 30 UUD 1945 yang menegaskan bahwa “Tiap-tiap warga
negara Indonesia berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara”
rumusan pasal 30 UUD 1945 mempersyaratkan tiap-tiap warga negara Indonesia
memiliki kesadaran terhadap hak dan kewajibannya yang harus ditanamkan ditumbuh
kembangkan disosialisasikan melalui kegiatan Binter, sehingga bangsa ini
memiliki ketahanan Nassional yang tangguh.
19.
Strategi Strategi
Nasional adalah cara untuk melaksanakan politik / kebijakan Nasional untuk
mencapai sasaran dan tujuan nasional, Kebijakan nasional yaitu rencana alokasi sumber kemampuan bangsa
dari rincian dan langkah-langkah dan tahapan waktu yang diperlukan untuk
mencapai sasaran nasional, sedangkan sasaran nasional adalah kondisi nyata yang
hendak di capai dengan melibatkan usaha dan sumber kemampuan yang telah
ditetapkan melalui kebijaksanaan nasional, sedangklan landasan Politik Nasional
adalah Ketahanan Nasional, Wawasan Nusantara, UUD 1945 dan Pancasila.
Atas
dasar itu maka strategi untuk mengoptimalkan memberdayakan Pengaruh Faktor
interen dan eksteren terhadap Ketahanan Nasional yang telah diuraikan diatas
guna menciptakan RAK Juang yang tangguh untuk tercapainya tujuan Nasional, melalui
kegiatan sebagai berikut :
Pembinaan
Teritorial sebagai upaya mewujudkan RAK Juang yang tangguh untuk kepentingan
Pertahanan Negara yang dilakukan dalam berbagai bidang adalah :
a)
Faktor
Interen
1)
Sejarah
Perjuangan Bangsa
Dengan
memahami sejarah perjuangan bangsa, diharapkan seluruh komponen bangsa dapat
mengambil hikmahnya, sehingga akan timbul rasa nasionalisme sebagai modal dasar
kejuangan, Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan agar pemberdayaan
pemahaman Sejarah Perjuangaan Bangsa
dapat dijadikan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara,
kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)
Sosialisasikan
sejarah perjuangan bangsa di lembaga pendidikan, instansi pemerintah dan
swasta, masyarakat umum,
(b)
Libatkan
media masa cetak dan elektronik
(c)
Kampanyekan
cinta tanah air melalui kegiatan kongkrit
(d)
Kunjungan
ke tempat-tempat bersejarah
(e)
Hargai
para pahlawan
2)
Geografi
Letak
Geografi Indonesia yang sangat strategis harus diupayakan seoptimal mungkin
untk kepenting Pertahanan Negara, Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan
agar Faktor Geografi tetap dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh
untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui
:
(a)
Manfaatkan
pulau terluar (terdepan) sebagai ujung tombak dalam menjaga wilayah dalam
negeri
(b)
Manfaatkan
posisi strategis sebagai basis pertahanan dan keamanan
(c)
Tingkatkan
pembangunan di pulau terluar (terdepan)
(d)
Bina
hubungan Bilateral dan Multilateral dengan baik dengan prinsip saling menghormati
dan menghargai
(e)
Tegakkan
kedaulatan wilayah NKRI.
3)
Demografi
Dari
sudut Demografi Indonesia yang terdiri
dari ribuan pulau dikelilingi lautan dengan wilayah yang sangat luas,
penyebaran penduduk keseluruh Indonesia, hal ini dijadikan modal untuk
peningkatan ketahanan Nasional, Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan
agar Faktor Demografi tetap dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh
untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui
:
(a)
Pemerataan
dan pemanfaatan pembangunan yang tepat, agar terjadi penyebaran penduduk dan
peningkatan kesejahteraan
(b)
Pembinaan
teritorial yang intensif, sehingga akan berpihak pada keamanan dan pertahanan
(c)
Konsentrasikan
pembangunan di daerah-daerah agar memacu tingkat kesejahteraan masyarakat
(d)
Kebijakan
Transmigrasi diteruskan dengan konsep yang disempurnakan
(e)
Dorong
putra daerah yang telah sukses di Ibu Kota bahkan telah menjadi Tokoh Nasional,
agar berpartisipasi dengan pembangunan di daerahnya.
4)
Faktor
Alam (Kondisi Alam & Kekayaan Alam)
Kondisi
Alam Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dikelilingi lautan dan terdiri
dari bukit dan hutan akan sangat efektif untuk sistim pertahanan begitu juga
kekayaan alamnya yang melimpah ruah, harus dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya
kesejahteraan rakyat agar bangsa ini punya ketahanan Pembinaan Teritorial harus
terus diupayakan agar Faktor Alam (Kondisi Alam & Kekayaan Alam) tetap
dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara,
kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a) Mengoptimalkan pengelolaan Faktor alam secara
efisien efektif lestari dan
berkesinaambungan
(b) Pengadaan
Alutsista disesuaikan dengan kondisi Alam
(c) Manfaatkan Kondisi Alam untuk menyususn
Strategi pertahanan (Vietnam telah membuktikan saat menghadapi Amerika)
(d) Amankan dan Optimalkan kekayaan alam
secara tepat guna
(e) Kekayaan alam dijadikan sarana untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat
5)
SDM
(Sumber Daya Manusia)
Jumlah
penduduk yang banyak merupakan modal dasar pembangunan, namun kalau kualitasnya
rendah justru akan menjadi beban pembangunan, maka Pembinaan Teritorial harus
terus diupayakan agar SDM yang ada dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang
tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya
melalui :
(a)
Menyiapkan
SDM yang Profesional kompetitif dan siap pakai
(b)
Menyiapkan
SDM yang maampu menguasai dan mengaplikasikan Ilmu Pengetahuaan dan Tekhnologi
sesuai tuntutan jaman
(c)
Menyiapkan
SDM yang cerdas dan jujur
(d)
Menyiapkan
kualitas SDM bukan menjadi tanggung jawab masyarakat semata, namun tanggung jawab Pemerintah juga
(e)
Anggaran
pendidikan yang sudah cukup besar manfaatkan secara efisien dan efektif, baik untuk sarana dan prasarananya guna
mencapai mutu Standar Internasional
6)
Idiologi
Bangsa
Indonesia telah sepakat bahwa Pancasila adalah dasar negara Indonesia
sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke empat, untuk
memperkuat ketahanan di bidang Idiologi agar bangsa ini punya ketahanan maka
yang harus terus diupayakan agar Idiologi bangsa tetap dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang
tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya
melalui :
(a) Pancasila sebagai satu-satunya azas dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara
(b)
Pengamalan Pancasila secara murni
dan konsekwen
(c) Pancasila hendaknya jangan hanya dipahami
sebagai Ilmu pengetahuan saja namun yang lebih penting mengimplementasikannya
dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakata berbangsa dan bernegara secara
konkrit
(d) Bentuk Komisi Nasional Pancasila
(e) Segala aktivitas kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus berpedoman pada Pancasila
7)
Politik
Politik
Indonesia saat ini multi Partai dengan
azas beraneka ragam, euvoria Politik
yang cenderung mengedepankan kebebasan, harus disikapi dengan arif
bijaksana dan cerdas agar tetap dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang
tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan adalah
(a) Sederhanakan jumlah Partai Politik
(b) Jadikan Pancasila sebagai satu-satunya
Azas
(c) Kaji Ulang kebijakan Politik yang
berdampak negative dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
(d) Ajak seluruh komponen bangsa terutama
para pelaku politik agar dalam berpolitik (High Politik) politik tingkat tinggi
artinya Profesional dan lebih mengedepankan
kepentingan kemajuan Bangsa dan Negara
(e) Tingkatkan kebersamaan, kesatuan dan
persatuan demi maju dan utuhnya NKRI.
8)
Ekonomi
Ekonomi
dalam negeri sangat dipengaruhi oleh ekonomi dunia, tingkat pertumbuhan ekonomi
menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat maka upaya peningkatan
pertumbuhan ekonomi adalah hal mutlak agar bangsa ini dapat sejahtera dan maju,
melalui Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan agar tetap dapat
diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan
Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)
Mewujudkan
kemakmuran yang adil dan merata melalui ekonomi kerakyatan
(b)
Menghindari
free fight, liberalism, etatisme monopoli ekonomi
(c)
Usaha
bersama atas azas kekeluargaan
(d)
Pemerataan
pembangunan dan pemanfaatannya dengan memperhatikan keseimbangan dan keserasian
antara pusat dan daerah, antar wilayah dan antar sektor
(e)
Pembangunan
jangan hanya terkonsentrasi dipusat, diupayakan didaerah, bahkan pulau terluar
(terdepan)
9)
Sosial
Budaya.
Gencarnya
budaya asing yang terus merongrong budaya bangsa, adanya klaim-klaim budaya
dari negara tetangga, ini semua menandakan betapa pentingnya membentengi bangsa
dari pengaruh budaya asing, agar bangsa ini punya ketahanan Pembinaan Teritorial harus terus
diupayakan agar Budaya Bangsa tetap
dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara,
kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)
Berpedoman pada pengamalan sila pertama
Ketuhanan Yang Maha Esa
(b)
Tidak
bertentangan dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa
(c)
Mempunyai
kemampuan untuk memilah-milah, menangkal
dan memfiltrasi budaya asing yang tidak sesuai dengan busaya Indonesia
(d)
Menjadikan
budaya Indonesia menjadi tuan rumah di negaranya sendiri
(e)
Budaya
dijadikan sebagai alat pemersatu dan memperkuat ketahanan bangsa.
10)
Hankam
Pembinaan
Teritorial dibidang pertahanan dan keamanan, meskipun UU TNI No 11 yang
memisahkan secara tegas bahwa tugas TNI di bidang pertahanan dan POLRI dibidang
keamanan, sebenarnya pertahanan dan keamanan hanya bisa dibedakan tapi tidak
bisa dipisahkan, agar bangsa ini punya ketahanan Pembinaan Teritorial harus
terus diupayakan agar bangsa tetap dapat
diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan
Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)
Optimalkan
kerjasama yang baik antar komponen bangsa demi kepentingan pertahanan nasional
(b)
Politik
luar negeri diprioritaskan untuk kepentingan kerjasama yang dapat menguntungkan
pertahanan, keamanan dan keutuhan NKRI.
(c)
Pengadaan
Alutsista yang efisien, efektif dengan pertimbangan skala prioritas
(d)
Siapkan
seluruh komponen bangsa melalui bela negara agar kapan saja bisa didayagunakan
(e)
Manfaatkan
dan optimalkan peran dan fungsi Industri
milik TNI dan lainnya yang ada kaitannya dengan sistim pertahanan keamanan
b) Faktor Eksteren
1) Globalisasi
Dari segi
proses Globalisasi berlangsung melalui dimensi yaitu dimensi ruang dan waktu,
ruang dipersempit dan waktu dipercepat sehingga seolah-olah negara tanpa batas
kebijakan di suatu negara akan berdampak terhadap negara lainnya, globalisasi
juga berpengaruh positif dan negative
terhadap nilai-nilai nasionalisme suatu bangsa, Pembinaan Teritorial harus
terus diupayakan agar Globalisasi dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang
tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya
melalui :
(a)
Memacu
untuk berkompetisi disegala bidang yang menguntungkan bagi peningkatan kualitas
bangsa
(b)
Mengadopsi
pola fikir yang baik tentang etos kerja, disiplin, kemajuan Iptek.
(c)
Menangkal
dampak negative dari globalisasi
(d)
Memanfaatkan
terbukanya kesempatan kerja, dengan menyiapkan tenaga-tenaga professional
(e)
Mempersiapkan
SDM yang tangguh
2) Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi
Pesatnya
perkembangan Ilmu pengetahuan dan tekhnologi, harus diimbangi dengan kemampuan
SDM agar kemajuannya berdampak positif terhadap bangsa dan negara Pembinaan
Teritorial harus terus diupayakan agar Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi
dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara,
kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)
Pemanfaatan
kemajuan Ilmu pengetahuan dan tekhnologi untuk peningkatan kemajuan dan
kesejahteraan bangsa
(b)
Menangkal
dampak negatif dari kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi.
(c)
Berperan
aktif untuk terus mengikuti kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi agar tidak
ketinggalan zaman
(d)
Memilah
Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi yang tepat guna dan cocok dengan Indonesia
(e)
Menggunakan
Ilmu Pengetahuan dan tekhnologi untuk hal-hal positif.
3) Isu Demokrasi
Isu
Demokrasi menjadi salah satu kendala bagi bangsa Indonesia dalam memainkan
Politik Luar Negerinya, dunia barat dan khususnya Amerika Serikat negara yang
mengklaim dirinya sebagai negara yang paling Demokratis sering mempertayakan
pelaksanann Demokrasi di Indonesia, berbagai upaya diplomasi yang dilakukan
oleh pemerintah belum mendapatkan hasil yang optimal, hal ini harus menjadi
masalah serius yang harus terus menerus diupayakan untuk penyelesaian lebih
lanjut, maka Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan agar Isu Demokrasi
dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara,
kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)
Para
Diplomat harus cerdas menjelaskan tentang pelaksanaan Diplomasi di Indonesia
(b)
Menangkal
dampak negatif dari Isu Demokrasi tersebut.
(c)
Aktif
terhadap perdamaian dunia dengan berprinsip pada politik luar negerinya “bebas
aktif)
(d)
Membina
hubungan baik dengan negara-negara didunia
secara bilateral maupun multilateral agar berdampak positif
(e)
Memperbaiki
pelaksanaan Demokrasi di Indonesia.
4) Isu HAM
Isu HAM menjadi salah
satu kendala bagi bangsa Indonesia dalam memainkan Politik Luar Negerinya, PBB
yang dimotori Amerika Serikat sering mempertayakan pelaksanann HAM di
Indonesia, berbagai upaya diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah belum
mendapatkan hasil yang optimal, hal ini harus menjadi masalah serius yang harus terus menerus diupayakan untuk
penyelesaian lebih lanjut, maka Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan
agar Isu HAM dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan
Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)
Pencegahan
agar tidak terulang lagi terjadinya suatu pelanggran HAM.
(b)
Penghormatan
HAM dalam kehidupan sehari-hari, dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
(c)
Semua
berkewajiban Menegakan, Memenuhi, Menghormati HAM, untuk itu terhadap kasus
pelanggaran yang sudah terjadi, harus diselesaikan secara bijaksana, adil dan
jujur dengan Konsep “Menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah”
(d)
Mengupayakan mengatasi persoalan HAM, salah satunya adalah
melalui Pencegahan dengan konsep “Mencegah lebih baik dari pada mengobati’ dan
tidak mentolerir pelanggaran HAM sekecil apapun yang dilakukan oleh
siapapun
(e)
Mengusahakan
Penghormatan HAM dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat, Berbangsa dan
Bernegara dengan konsep “hidup saling menghormati jauh lebih baik dari pada
saling memusuhi”
20.
Penjabaran Strategi, Agar strategi ini dapat dilaksanakan maka
perlu dijabarkan/ diuraikan sbb :
a.
Tujuan
Penulisan ini bertujuan untuk merumuskan
dan mencari solusi pengaruh Faktor interen dan eksteren terhadap Ketahanan
Nasional melalui kegiatan Binter guna mewujudkan
RAK Juang yang tangguh untuk kepentingan Pertahanan Negara guna tercapainya
Tujuan Nasioanl sebagaimana yang diamanatkan UUD 1945..
b.
Sasaran
Sasaran dari
penulisan ini adalah Pemberdayaan pengaruh Faktor interen dan eksteren terhadap
Ketahanan Nasional guna terwujudnya RAK juang yang tangguh untuk kepentingan
Pertahanan Negara
c.
Subyek
Pejabat
Binter, pejabat terkait dan seluruh komponen bangsa yang menangani masalah
kegiatan pembinaan teritorial
d.
Obyek
Obyek
kegiatan Binter ditujukan terhadap Faktor
interen dan eksteren yang berpengaruh
terhadap ketahanan nasional yang dapat menimbulkan HTAG
e.
Metode
Penulisan ini berdasarkan studi
kepustakaan dan informasi yang dihimpun dari media cetak maupun elektronik dan
pengamatan kondisi sosial masyarakat yang terus berkembang, agar diperoleh
gambaran yang komperhensif sebagai masukan untuk menyusun strategi Pertahanan Negara.
21.
Upaya
Dalam situasi seperti sekarang ini,
agar bangsa Indonesia mempunyai ketahanan nasionalnya sehingga dapat menghadapi
Hambatan Tantanga Ancamaan dan Gangguan yang datang dari dalam maupun dari luar
yang secara langsung maupun tidak langsung dapat berpengaruh terhadap integritas
kehidupan berbangsa dan bernegara dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya
untuk mencapai tujuan nasionalnya, maka upaya yang harus dilakukan oleh para Pejabat
Binter, Pejabat Terkait dan seluruh komponen bangsa adalah dengan kesadaran
Nasionalisme yang tinggi mengupayakan pemberdayaan berbagai Faktor yang
berpengaruh terhadap Ketahanaan Nasional agar menjadi RAK Juang yang tangguh guna
menciptakan Pertahanan Negara untuk mencapai tujuan Nasionalnya.
BAB-VII
PENUTUP
22.
Kesimpulan
Wawasan
Nusantara sebagai suatu landasan hidup bagi Bangsa Indonesia mutlak harus ada
dan wajib dikaji dan dikembangkan terus sesuai dengan perkembangan kebutuhan.
oleh karena Bangsa Indonesia hidup bersama-sama diatas pentas pergaulan
Internasional bangsa-bangsa di dunia, maka Wawasan Nusantara mutlak harus
dimiliki sebagai akibat Doktrin Kebutuhan (Doctrine of Necessity) dan Doktrin
Hak Mempertahankan Diri (Doctrine of Right of Self Prevention). dan berbagai Factor
yang berpengaruh secara eksteren seperti ; Globalisasi, Ilmu Pengetahuan dan
Tekhnologi, Isu Demokrasi, Isu HAM dan Faktor Interen seperti ; Pengalaman proses sejarah perjuangan bangsa
yang panjang ditambah dengan letak geografis, demografis, kondisi alam Negara
Indonesia yang berada pada posisi silang, Sumber Daya Manusia dan faktor
kondisi sosial ; (IPOLEKSOSBUDHANKAM)
Idiologi Politik Ekonomi Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan, dengan adanya
falsafah Pancasila yang berwatak toleran maka mutlak diciptakannya suatu
Integrasi Nasional di segala bidang Kebulatan Wilayah Nasional, satu kesatuan
bangsa, satu tujuan dan tekad perjuangan satu kesatuan hukum satu kesatuan
sosial budaya satu kesatuan ekonomi dan satu kesatuan hankam melalui kegiatan
Pembinaan Teritorial kita wujudkan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk mendapatkan Ketahanan Negara sebagai syarat mutlak guna mencapai tujuan Nasionalnya..
23.
Saran
a.
Perlunya
pemahaman sejarah perjuangan bangsa bagi seluruh komponen bangsa untuk diambil
hikmahnya guna menumbuhkan rasa Nasionalisme
b.
Sadari
dan manfaatkan seoptimal mungkin posisi strategis geografi Indonesia untuk
kepentingan kesejahteraan dan pertahanan negara guna mewujudkan tujuan
nasionalnya
c.
Politik
Luar Negeri Indonesia selain berpartisipasi secara aktif dalam perdamaian
dunia, harus dipertegas lagi terutama sehubungan Indonesia berada pada posisi
silang, baik hubungan bilateral maupun multilateral.
d.
Dari
faktor Demografi perlunya pemikiran secara utuh menyeluruh terhadap
pemberdayaan Demografi
e.
Potensi
Alam (Kondisi alam & kekayaan alam) perlu diberdayakan seoptimal mungkin
agar menjadi potensial demi kesejahteraan dan keamanan seluruh bangsa dan
negara Indonesia.
f.
Sumber
Daya Manusia yang banyak modal dasar pembangunan, namun kalau kualitaasnya
rendah akan menjadi beban pembangunan, maka perlu pemberdayaan kualitas SDM.
g.
Perlu
dibentuknya Komisi Nasional Pancasila guna Pemberdayaan Pengamalan Pancasila
sebagai Idiologi bangsa dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara
secara murni dan konsekwen
h.
Perlu
penyederhanaan jumlah partai politik dan penerapan azas tunggal (Azas
Pancasila) agar efisien dan efektif, hentikan euvoria politik.
i.
Percepatan,
pemerataan pertumbuhan ekonomi di segala bidang dengan melakukan berbagai
inovasi dan
j.
Lemahnya
ketahanan sosial budaya bangsa Indonesia akan sangat berpengaruh terhadap
seluruh aspek kehidupan, pemberdayaan aspek sosial budaya menjadi hal penting
guna mewujudkan RAK Juang yang tangguh
k.
Pertahanan
dan keamanan, meskipun UU TNI No.11 memisahkan secara jelas Pertahanan
ditangani oleh TNI dan Keamanan oleh POLRI, tapi pertahanan dan keamanan hanya
bisa dibedakan tapi tidak mungkin dipisahkan, maka pemberdayaan seluruh aspek
potensi bangsa dan negara untuk mewujudkan RAK Juang yang tangguh guna tegak,
utuh dan majunya NKRI mutlak demi mencapai tujuan Nasionalnya.
l.
Bangsa
Indonesia harus survive dan bangkit di Era Globalisasi
m.
Rebut
dan kuasai Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi
n.
Indonesia
harus konsisten dalam politik luar negerinya bebas aktif tapi tetap
memprioritaskan kepentingan Nasionalnya, jadi harus cerdas dan lugas dalam
menghadapi percaturan politik global
o.
Indosia jangan larut atau bahkan ikut irama
tentang isu demokratisasi yang dihembuskan dari negara adi daya, tapi tetap
harus konsisten Demokrasi kita adalah Demokrasi Pancasila
p.
Indonesia
harus berani menunjukan kepada dunia bahwa di negara yang berdasarkan Pancasila
Penegakan HAM telah dilaksanakan, dengan bukti adanya Komisi Nasional Hak Azasi
Manusia yang telah berdiri sejak Keppres No. 50 Th. 1993 tentang Komnas HAM,
dan pada tanggal 7 Juni 1993 dibentuklah Komnas HAM, bahkan untuk menguatkan
penegakan HAM maka MPR mengeluarkan TAP MPR No. XVII/MPR/1998.
1.Daftar
Pustaka :
2.
Permasalahan
3. F Eks
1) Negara Indonesia negara kesatuan
berbentuk Republik
2) Kedaulatan ditangan
rakyat dilakukan sepenuhnya
oleh
TZMKO 1939 tidak menjamin kesatuan
wilayah Indonesia sebab wilayah Indonesia menjadi terpisah-pisah, sehingga pada
tgl. 13 Desember 1957 pemerintah mengeluarkan Deklarasi Djuanda yang isinya :
Pertama Segala perairan disekitar,
diantara dan yang menghubungkan pulau-pulau yang termasuk negara Indonesia
dengan tidak memandang luas/lebarnya
adalah bagian-bagian yang wajar daripada wilayahdaratanIndonesia.
Kedua Lalu-lintas yang damai di
perairan pedalaman bagi kapal-kapal asing dijamin selama dan sekedar tidak
bertentangan/mengganggu kedaulatan dan keselamatan negara Indonesia.
Ketiga Batas laut teritorial adalah 12 mil
diukur dari garis yang menghubungkan titik-titik ujung yang terluar pada
pulau-pulau negara Indonesia.
Sebagai negara kepulauan yang wilayah perairan lautnya lebih luas dari pada wilayah daratannya, maka peranan wilayah laut menjadi sangat penting bagi kehidupan bangsa dan negara
Sebagai negara kepulauan yang wilayah perairan lautnya lebih luas dari pada wilayah daratannya, maka peranan wilayah laut menjadi sangat penting bagi kehidupan bangsa dan negara
Undang-Undang
No. 4 Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia menyatakan bahwa Perairan Indonesia
ialah laut wilayah ( Laut Territorial ) Indonesia beserta perairan pedalaman
Indonesia. Negara Indonesia terdiri dari atas sejumlah besar kepulauan dalam
bentuk "Archipelago" dalam arti Indonesia dengan pulau-pulau dan laut
sekelilingnya sebagai kesatuan yang utuh. Oleh karenanya Indonesia menganggap
mempunyai hak atas segala perairan yang terletak di dalam batas-batas garis
laut wilayah, atas wilayah daratan dan ruang udara di atasnya. Dengan demikian
jelas bahwa Negara Republik Indonesia berada dalam satu kesatuan wilayah
yang utuh dan terdiri atas wilayah daratan, wilayah laut territorial dan
perairan pedalaman beserta ruang udara diatasnya. Oleh karena itu Wawasan
Nusantara adalah Wawasan yang mampu menampung segala unsur yang mencakup
perpaduan aspek-aspek laut, darat dan udara, baik untuk pencapaian
Tujuan-Tujuan Perjuangan Nasional maupun untuk kepentingan-kepentingan
Pertahanan dan Keamanan Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar