Minggu, 23 September 2012

STRATEGI PEMBERDAYAAN PENGARUH FAKTOR INTEREN DAN EKSTEREN TERHADAP KETAHANAN NASIONAL MELALUI KEGIATAN BINTER GUNA TERWUJUDNYA RAK JUANG YANG TANGGUH UNTUK PERTAHANAN NEGARA DALAM MEWUJUDKAN TUJUAN NASIONAL


STRATEGI PEMBERDAYAAN PENGARUH FAKTOR INTEREN DAN EKSTEREN
TERHADAP KETAHANAN NASIONAL MELALUI KEGIATAN BINTER GUNA TERWUJUDNYA RAK JUANG YANG TANGGUH UNTUK  PERTAHANAN NEGARA
DALAM MEWUJUDKAN TUJUAN NASIONAL

oleh : Mukhtadi el Harry

BAB I
PENDAHULUAN


1.            Umum.            Ketahanan Nasional suatu bangsa akan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang bersifat intern maupun eksteren, yang bersifat interen diantaranya adalah  Sejarah Perjuangan Bangsa, Geografi, Demografi, Faktor Alam, Sumber Daya Manusia, Kondisi Sosial ; Idiologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, Pertahanan dan Keamanan, sedangkan yang bersifat eksteren adalah Globalisasi, Kemajuan Ilmu Pengetahuan, Isu Demokrasi dan Isu HAM. Untuk menjaga stabilitas Nasionalnya maka suatu bangsa harus mampu memberdayakan seluruh potensi nasionalnya agar menjadi RAK Juang yang tangguh untuk membangun Pertahanan Negaranya  guna mencapai tujuan Nasionalnya. sehingga bukan hanya dapat mencegah dan menangkal berbagai bentuk HTAG yang dari dalam maupun dari luar namun juga secara dinamis dapat tumbuh dan berkembang sejajar dengan bangsa-bangsa lain didunia.
Belajar dari pahit getirnya proses perjalanan sejarah Indonesia, sejak sebelum masa penjajahan, masa penjajahan, saat revolusi kemerdekaan, setelah merdeka diawali dari pemerintah Orde Lama, Orde Baru dan sekarang Orde Reformasi, seharusnya menjadikan bangsa Indonesia  semakin dewasa dan dapat mengambil hikmahnya, sehingga tidak lagi melakukan hal-hal yang akan merugikan, dan kedepan kita bangun Indonesia dengan berpedoman pada Pancasila dan UUD 1945.

2.            Maksud dan Tujuan.             Maksud dan Tujuan tulisan ini untuk memahami  pentingnya pemberdayaan pengaruh Faktor interen dan eksteren terhadap Ketahanan Nasional melalui kegiatan Pembinaan Teritorial  guna terwujudnya RAK Juang yang tangguh untuk  Pertahanan Negaran dalam mewujudkan tujuan Nasional.

3.            Rung lingkup dan tata urut.                        Ruang lingkup tulisan ini adalah Pemberdayaan pengaruh Faktor interen dan eksteren terhadap Ketahanan Nasional  melalui kegiatan Pembinaan Teritorial guna terwujudnya RAK Juang yang tangguh untuk  Pertahanan Negara dalam mewujudkan tujuan Nasional, adapun tata urut tulisan ini adalah sbb :

a.                             Pendahuluan
b.               Latar Belakang
c.               Kondisi Saat Ini
d.               Faktor-faktor yang berpengaruh
e.               Kondisi yang diharapkan
f.                Konsepsi/ Aktualisasi/ Implementasi/ Optimalisasi
g.               Penutup

4.            Metode dan Pendekatan      Penulisan ini berdasarkan atas studi kepustakaan dan informasi yang dihimpun dari media cetak maupun elektronik dan pengamatan kondisi sosial masyarakat yang terus berkembang, agar diperoleh gambaran yang komperhensif untuk menyusun tulisan ini.

5.            Pengertian

a.                   Ketahanan Nasional

Ketahananaan Nasional adalah kondisi dinamis suatu bangsa yang terdiri atas ketangguhan serta keuletan dan kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala macam dan bentuk hambatan ancaman tantangan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun luar, secara langsung maupun tidak langsung yang mengancam dan membahayakan integritas identitas kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan dalam mewujudkan tujuan perjuangan nasional.
            Konsepsi ketahanan nasional adalah keseimbangan dan keserasian dalam kehidupan sosial melingkupi seluruh aspek kehidupan secara utuh menyeluruh berlandaskan falsafah bangsa ideologi negara konstitusi dan wawasan nasional dengan metode Astagatra. Konsepsi ketahanan nasional ini merupakan sarana untuk mewujudkan ketahanan nasional.
Ketahanan Nasional mempunyai aspek utama yaitu Kesejahteraan dan Keamanan Kesejahteraan dan Keamanan adalah dua aspek dari Ketahanan Nasional yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Sebab itu mengusahakan terwujudnya Ketahanan Nasional hakikatnya merupakan satu proses membentuk Kesejahteraan dan Keamanan buat bangsa dan negara. Ketahanan Nasional hanya dapat terwujud kalau meliputi seluruh segi kehidupan bangsa yang biasanya kita namakan aspek sosial kehidupan, meliputi (Ipoleksosbudhankam) Ideologi  Politik Ekonomi Sosial Budaya dan Hankam. Juga meliputi aspek alam yaitu Geografi, Penduduk dan Kekayaan Alam. Di lingkungan Lembaga Ketahanan Nasional seluruh segi kehidupan bangsa itu dinamakan Asta Gatra, terdiri dari Panca Gatra (Sosial) dan Tri Gatra (Alam).Seluruhnya itu harus selalu diusahakan untuk memberikan perannya dalam perwujudan Kesejahteraan dan Keamanan.
Ketahanan nasional mengutamakan pengaturan kehidupan nasional dengan mendahulukan keadaan dalam negeri sehingga dapat dikatakan bahwa ketahanan nasional bersifat ''inward looking'' meskipun tidak mengabaikan hubungan luar negeri  sementara kekuatan nasional bersifat “outward looking” Itu sebabnya ketahanan nasional harus tetap terpelihara untuk menghadapi hambatan dan ancaman baik dari dalam maupun dari luar.


b.         Bentuk – bentuk ancaman :
1)             Ancaman di dalam negeri contohnya adalah pemberontakan dan subversi yang berasal atau terbentuk dari masyarakat Indonesia.
2)             Ancaman dari luar negeri contohnya adalah infiltrasi subversi dan intervensi dari kekuatan kolonialisme dan imperialisme serta invansi dari darat laut dan udara oleh musuh dari luar negeri.
c.         Asas ketahanan nasional adalah tata laku yang didasari nilai-nilai yang tersusun berlandaskan Pancasil UUD 1945 dan Wawasan Nusantara. Asas-asas tersebut meliputi :

1)                            Asas kesejahteraan dan keamanan
Didalam kehidupan nasional berbangsa dan bernegara unsur kesejahteraan dan keamanan ini biasanya menjadi tolak ukur bagi mantap atau tidaknya ketahanan nasional.
2)                            Asas menyeluruh terpadu
Artinya, ketahanan nasional mencakup seluruh aspek kehidupan Aspek-aspek tersebut berkaitan dalam bentuk persatuan dan perpaduan secara selaras serasi dan seimbang.
3)                            Asas kekeluargaan
Bersikap keadilan  kebersamaan kesamaan gotong royong tenggang rasa dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

d.            Wawasan Nusantara.

Wawasan Nusantara  adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannnya secara utuh menyeluruh dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara untuk mencapai tujuan nasionalnya
Beberapa Teori tentang Wawasan Nusantara yang dikemukakan oleh para ahli diantaranya adalah :
1)            Wawasan Benua : Bila daratan sudah dikuasai maka daratan maritim dapat dikuasai (Sirbalfordjohn Machider)
2)         Wawasan Nusantara : cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan tanah airnya sebagai negara kepulauan dengan semua aspek kehidupan yang beragam ( Prof Dr Wan Usman )
3)             Kelompak Kerja LEMHANAS 1999., Wawasan Nusantara adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang serba beragam dan bernilai strategis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional
4)             Global Paradox menyatakan negara harus mampu memberikan peranan sebesar-besarnya  kepada rakyatnya.
5)             Borderless World dan The End of Nation State menyatakan  batas wilayah geografi relatif tetap tetapi kekuatan ekonomi dan budaya global akan menembus batas tersebut. Pemerintah daerah perlu diberi peranan lebih berarti.
6)             The Future of Capitalism menyatakan strategi baru kapitalisme adalah mengupayakan keseimbangan antara kepentingan individu dengan masyarakat serta antara negara maju dengan negara berkembang.

e.            Wawasan Nusantara terdiri dari Wadah (Countour) dan Isi (Content)
1)            Wadah (Contour)
Wadah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara meliputi seluruh wilayah Indonesia yang memiliki sifat serba nusantara dengan kekayaan alam dan penduduk serta aneka ragam budaya. Bangsa Indonesia memiliki organisasi kenegaraan yang merupakan wadah berbagai kegiatan kenegaraan dalam wujud supra struktur politik dan wadah dalam kehidupan bermasyarakat adalah berbagai kelembagaan dalam wujud infra struktur politik
2)            Isi (Content)
Adalah aspirasi bangsa yang berkembang di masyarakat Cita-cita dan tujuan Nasional persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan semua aspek kehidupan Nasional yang terdiri dari Cita-cita  (Pembukaan UUD 1945 alinea ke-2) Sifatnya (utuh, menyeluruh, manunggal) Cara kerjanya (pedoman, mawas diri, olah budi)
3)            Tata laku (Conduct)
Hasil interaksi antara wadah dan isi wasantara yang terdiri dari :
Tata laku Bathiniah yaitu mencerminkan jiwa semangat dan mentalitas yang baik dari bangsa Indonesia, sedangkan Tata laku Lahiriah yaitu tercermin dalam tindakan perbuatan dan perilaku dari bangsa Indonesia.

Kedua tata laku tersebut mencerminkan identitas jati diri/ kepribadian bangsa berdasarkan kekeluargaan dan kebersamaan yang memiliki rasa bangga dan cinta terhadap bangsa dan tanah air sehingga menimbulkan rasa nasionalisme yang tinggi dalam semua aspek kehidupan nasional.

Dari rumusan-rumusan diatas ternyata tidak ada satupun yang menyatakan tentang perlu adanya persatuan sehingga akan berdampak konflik antar bangsa karena kepentingan nasionalnya tidak terpenuhi. Dengan demikian Wawasan Nusantara sebagai cara pandang bangsa Indonesia dan sebagai visi nasional yang mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa masih tetap valid baik saat sekarang maupun mendatang, sehingga prospek wawasan nusantara dalam era mendatang masih tetap relevan dengan norma-norma global.
Bangsa Indonesia yang berfalsafah dan beridiologi Pancasila menganut paham tentang perang dan damai berdasarkan falsafah : “Bangsa Indonesia cinta damai, akan tetapi lebih cinta kemerdekaan”. Dengan demikian wawasan nasional bangsa Indonesia tidak mengembangkan ajaran kekuasaan dan adu kekuatan karena hal tersebut mengandung persengketaan dan ekspansionisme.

Bangsa Indonesia dalam menentukan wawasan nasional mengembangkan dari kondisi nyata Indonesia dibentuk dan dijiwai oleh pemahaman kekuasan dari bangsa Indonesia yang terdiri dari latar belakang sosial budaya dan kesejarahan Indonesia.
Untuk itu pembahasan latar belakang filosofi sebagai dasar pemikiran dan pembinaan nasional Indonesia ditinjau dari :

Pemikiran berdasarkan falsafah Pancasila, Wawasan nasional merupakan pancaran dari Pancasila oleh karena itu menghendaki terciptanya persatuan dan kesatuan dengan tidak menghilangkan ciri, sifat dan karakter dari kebhinekaan unsur-unsur pembentuk bangsa (suku bangsa, etnis dan golongan).
Pemikiran berdasarkan aspek kewilayahan dalam kehidupan bernegara, geografi merupakan suatu fenomena yang mutlak diperhatikan dan diperhitungkan baik fungsi maupun pengaruhnya terhadap sikap dan tata laku negara yang bersangkutan.

6.            Dasar Hukum

Sistim pertahanan negara landasan hukumnya adalah Pancasila sebagai landasan Idiil dan UUD 1945 sebagai landasan Konstitusional.
Pembukaan UUD 1945 Alenia ke empat  “Melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan Bangsa Ikut melaksanakan ketertiban Dunia”, dalam pelaksanaanya payung hukum penyelenggaraan Pertahanan Negara adalah
a.         UUD 1945 Pasal I, Pasal 30
b.             TAP MPR. No : VII/MPR/2000 tth Sishankamrata
c.             UU Nomor 3 / 1948 ttg Pertahanan RI
d.             UU Nomor 29 / 1945 ttg Pertahanan RI
e.             UU Nomor 20 / 1982 ttg ketentuan pokok Hankamneg
f.              UU Nomor 3 / 2002 ttg Pertahanan Negara
g.             UU Nomor 34/ 2004 ttg TNI

BAB. II

LATAR BELAKANG PEMIKIRAN

20.              Umum.            Ketahanan Nasional adalah hal mutlak bagi bangsa Indonesia agar dapat mencegah (HTAG) Hambatan Tantangan Ancaman dan Gangguan dari dalam maupun dari luar yang secara langsung ataupun tidak langsung akan mengancam dan membahayakan integritas identitas kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan dalam mewujudkan tujuan perjuangan nasional dan secara dinamis dapat mempertahankan diri dan mengembangkan kelangsungan hidupnya agar dapat tumbuh berkembang sejajar dengan bangsa-bangsa lain didunia.
Indonesia yang membujur dari sabang sampai merauke, letak Geografisnya dilalui oleh garis katulistiwa dengan batas astronomi sebelah Utara ±  6° 08’  lintang Utara, Selatan  ±  11°15’ Lintang Selatan, Barat ±  94°45’ Bujur Timur,Timur ±  141°05’ Bujur timur, yang terdiri dari : 17.508 pulau besar dan pulau kecil luas wilayahnya 5.193.250 km terdiri dari 2.027.087 km daratan dan 3.166.163 km perairan, sejumlah besar kepulauan dalam bentuk "Archipelago" dikelilingi lautan, dengan latar belakang sejarah yang panjang dan berbagai aspek Geografi, Demografi, Kekayaan alam, Sumber Daya manusia, Idioelogo, Politik Ekonomi Sosial budaya Pertahanan dan keamanan, kesemuanya akan  sangat berpengaruh dalam sistim pertahanan nasionalnya.

21.          Landasan / Dasar Pemikiran.         
Berdasarkan faktor yang berpengaruh terhadap Ketahanan Nasional baik yang bersifat interen (dari dalam) yaitu  pengalaman pahit getirnya  sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan aspek kewilayahan dalam kehidupan bernegara, yaitu Geografi, Demografi, Kondisi Alam, SDM (Sumber Daya Manusia) Kondisi Sosial (Ipoleksosbudhankam) maupun faktor yang bersifat eksteren (dari luar) keduaanya merupakan suatu fenomena yang mutlak diperhatikan dan diperhitungkan baik fungsi maupun pengaruhnya terhadap sikap dan tata laku negara yang bersangkutan,
Pemikiran berdasarkan falsafah Pancasila Wawasan Nasional merupakan pancaran dari Pancasila, oleh karena itu menghendaki terciptanya persatuan dan kesatuan dengan tidak menghilangkan ciri sifat dan karakter dari kebhinekaan unsur-unsur pembentuk bangsa (suku bangsa, etnis, bahasa dan golongan).
Bangsa Indonesia yang berfalsafah dan beridiologi Pancasila menganut paham tentang perang dan damai berdasarkan falsafah : “Bangsa Indonesia cinta damai, akan tetapi lebih cinta kemerdekaan”. dengan demikian wawasan nasional bangsa Indonesia tidak mengembangkan ajaran kekuasaan dan adu kekuatan karena hal tersebut mengandung persengketaan dan ekspansionisme.

22.          Hal-hal lain
Dinamika kehidupan Politik dalam hubungan Internasional baik yang bersifat Regional maupun Multilateral yang senantiasa berubah dari waktu kewaktu juga harus dicermati secara seksama agar bangsa Indonesia tidak kehilangan arah dalam menentukan sikap politik maupun demi kepentingan pembangunan nasionalnya, karena di era globalisasi keputusan suatu negara terkadang berpengaruh secara signifikan dengan negara lainnya.

BAB. III

KONDISI SAAT INI

10.       Umum.            Indonesia sebagai negara berkembang yang terletak di antara dua benua besar yaitu benua Asia dan benua Australia dan diantaraa samudra Pasifik dan samudra Indonesia yang terdiri dari 17.508 pulau besar dan pulau kecil luas wilayahnya 5.193.250 km terdiri dari 2.027.087 km daratan dan 3.166.163 km perairan  dilalui oleh garis katulistiwa dengan batas astronomi sbb : Sebelah Utara     ±   6° 08’  Lintang Utara, Selatan  ±  11°15’ Lintang Selatan, Barat      ±  94°45’ Bujur Timur, Timur     ±  141°05’ Bujur timur dengan jumlah penduduk cukup besar, tingkat penyebaran tidak merata sebagian besar ada di Pulau Jawa dan di Ibu kota negara, kota Propinsi, kota kabupaten dan kota-kota besar lainnya dengan tingkat pendidikan, kesehatan maupun kesejahteraan masih rendah bila dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain bahkan dengan bangsa Asia sekalipun semisal Jepang, Korea, Singapura dan Malaysia, ditengah persaingan Global, dan percaturan Politik Dunia, agar tidak terombang ambing oleh arus perkembangan dan perubahan maka Wawasan Nusantara mutlak harus dimiliki sebagai akibat Doktrin Kebutuhan (Doctrine of Necessity) dan Doktrin Hak Mempertahankan Diri (Doctrine of Right of Self Prevention).
11.       Permasalahan
Perermasalahan yang saat ini dihadapi bangsa Indonesia secara kualitatif adalah :
a)            Kurang memahami sejarah perjuangan bangsa sehingga menimbulkan  rendahnya Nasionalisme (subyektif)
b)            Pemanfaatan posisi strategis geogrfis belum optimal, sehingga belum menguntungan bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negara
c)            Sumber daya alam belum dikelola dengan baik, sehingga menimbulkan rusaknya sumber daya alam dan belum dapat ddinikmati untuk kemakmuran bangsa Indonesia sebagaimana yang dimanatkan dalam UUD 1945.    
d)            Penyebaran penduduk belum merata, sehingga menimbulkan masalah sosial, menimbulkan kantong-kantong kemiskinan dan mengurangi kemampuan negara dalam memanfaatkan kekayaan alam.
e)            SDM masih rendah kualitasnya sehingga tidak dapat digunakan sebagai modal pembangunan baahkan menjadi beban pembangunan
f)             Pancasila belum diamalkan secara murni dan konsekwen sehingga timbul masalah dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara
g)            Politik multi partai, sehingga menimbulkan biaya politik tinggi inefvisiensi dan instabilitas.
h)            Pertumbuhan ekonomi masih rendah, sehingga menimbulkan rendahnya tingkat kesejahteraan dan kemajuan bangsa
i)              Rendahnya ketahanan Sosial Budaya sehingga menimbulkan rentan terhadap budaya asing dan mudah disusupi budaya yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia.
j)              Lemahnya sistim Pertahanan dan Keamanan, sehingga sangat rentan dalam menghadapi (HTAG) Hambatan Tantangan Ancaman dan Gangguan
k)            Belum siapnya bangsa Indonesia dalam menghadi Globalisasi, sehingga menimbulkan masalah sosial hampir disetiap aspek kehidupan
l)              Pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi yang tidak sebanding dengan tingkat kualitas SDM, sehingga terkadang berdampak negataif dan bangsa Indonesia lebih bersifat sebagai Objek daripada Objek (korban)
m)          Isu Demoratisasi yang sering dikampanyekan negara-negara maju sering berdampak negatif dan menjadi kendala dalam menjalankan politik luar negerinya.
n)            Isu HAM, yang terus dikampanyekan oleh negara-negara maju, terkadang  berdampak negatif dan menjadi kendala dalam menjalankan politik luar negerinya.

BAB. IV
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH

12.          Umum             Faktor-faktor  yang mempengaruhi ketahanan Nasional Indonesia baik yang bersifat interen maupun eksteren,  yang bersifat intern diantaranya sejarah perjuangan bangsa  letak Gegeografi, Demografi, Kondisi Alam, Sumber Daya Manusia, Ipoleksosbudhankam, sedangkan yang bersifat ekstern diantaranya, Era Globalisasi, kemajuan Ilmu pengetahuan dan tekhnologi, percaturan politik Regional maupun multilateral, isu demokrasi dan HAM, yang secara langsung atau tidak langsung akan berpengaruh terhadap Ketahanan Nasional Bangsa Indonesia  untuk itu pemberdayaan berbagai Faktor yang berpengaruh terhadap Ketahanan Nasional melalui kegiatan Binter  guna terwujudnya RAK Juang yang tangguh untuk kepentingan Pertahanan Negara adalah hal mutlak agar bangsa Indonesia dapat menghadapi segala macam dan bentuk hambatan ancaman tantangan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun luar yang secara langsung maupun tidak langsung mengancam dan membahayakan integritas identitas kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan dalam mewujudkan tujuan perjuangan nasional dan dapat  mempertahankan dan mengembangkan kelangsungan hidupnya agar dapat sejajar dengan bangsa-bangsa lain didunia.

13.          Faktor Interen.
a.            Sejarah Perjuangan Bangsa.

1)            Masa Sebelum Penjajahan
Masa sebelum penjajahan, bangsa Indonesia, terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil yang saling berebut pengaruh dan kekuasaan, baik di lingkungan internal kerajaan maupun eksternal antar kerajaan, sehingga dengan kondisi semacam itu maka hampir dapat dipastikan ketahanan masing-masing kerajaan menjadi masalah yang pelik, meskipun dalam sejarahnya pernah ada suatu kerajaan yaitu Kerajaan Maja Pahit dengan rajanya yang bernama Hayam Wuruk dan Patihnya yang sangat terkenal dengan Sumpah Palapanya bernama Gajah Mada, berusaha menyatukan kerajaan-kerajaan di Nusantara, namun kondisi semacam ini ternyata tidak stabil dan tidak dapat menjadikan Kerajaan-kerajaan saat itu bersatu, buktinya sangat dengan mudah dikuasai Penjajah.

2)            Masa Penjajahan
VOC datang awalnya sebagai pedagang, namun situasi dan kondisi saat itu menggoda VOC untuk menguasai Nusantara, ini membuktikan bahwa betapa lemahnya Ketahanan saat itu, dimana antara kerajaan satu dengan yang lainnya sangat mudah diadu domba, bahkan antar warga kerajaan dan para pembesar kerajaan mudah diadu domba dan silau akan kekuasaan, situasi semacam inilah yang dimanfaatkan dengan baik oleh VOC, sehingga yang tadinya sebagai pedagang berubah menguasai hampir segala aspek kehidupan bahkan pemerintahan, dan akhirnya resmilah Pemerintah Belanda sebagai Penjajah, dan ironisnya Penjajahan ini berlangsung 3,5 abad lamanya, pertanyaannya apakah saat itu tidak ada perlawanan ?, tentunya ada, tapi persoalannya hampir perlawanan yang gigih oleh para pejuang yang mempunyai keberanian dan kesadaran akan harga diri dan masa depan  bangsanya, ternyata dapat dengan mudah dipatahkan oleh Penjajah, apa rahasianya ?, minimal ada dua hal penyebab kegagalan perlawanan saat itu yaitu
Pertama selain faktor ketidak seimbangan kemampuan, tapi yang sangat mendasar adalah, selalu ada pengkhianatan, sehingga para pejuang sangat dengan mudah dipatahkan, bahkan tidak perlu dengan perlawanan bersenjata cukup dengan mengadu domba.
Kedua Perjuangan itu berdiri sendiri, sifatnya masih kedaerahan sehingga sangat mudah dipatahkan, bahkan bukan hal yang sulit bagi Penjajah untuk menghentikan perlawanan para Pejuang, hal semacam ini menggugah sebagian kaum terpelajar saat itu untuk merubah strategi perjuangannya, sehingga pada tanggal 20 Mei 1928 para pemuda bersumpah di sebuah tempat di jalan Kramat Raya 24 yang sekarang kita kenal dengan gedung Sumpah Pemuda, sejak saat itulah strategi Perjuangan mulai di tata secara modern, sehingga peristiwa tersebut dikenal dengan Kebangkitan Nasional, bahkan Dunia tidak terkecuali Pemerintah Hindia Belanda tersentak dan akhirnya berkomentar “Bangsa Indonesia digambarkan bagaikan gadis yang baru tersadar dari tidurnya” komentar ini tidak berlebihan, karena 3,5 abad lamanya bagaikan terlelap tidur dibawah pengawasan, penindasan  dan kekuasaan Penjajah,
Lepas dari cengkeraman Belanda, bukan berarti merdeka, karena bangsa yang mengaku saudara tua dari Asia ternyata jauh lebih kejam dari pendahulunya meskipun waktunya  relatif singkat 3,5 tahun dalam cengkraman Jepang tapi dampaknya sungguh luar biasa,  untunglah strategi perjuangan sudah bersifat Nasional, akhirnya Pemerintah Jepangpun menjanjikan suatu Kemerdekan, maka dibentuklah BPU PKI dan pada sidang pertamanya yang dibicarakan adalah; “Nanti kalo merdeka, apa dasar negara kita” luar biasa sikap yang patut diteladani oleh generasi penerusnya, para pejuang terdahulu saat dijanjikan kemerdekan, mereka tidak menuntut pangkat, kedudukan, jabatan atau fasilitas apapun yang bersifat untuk kepentingan pribadi dan golongannya, tapi mereka justru yang dipikirkan untuk kepentingan Nasionalnya, sungguh luar biasa, nilai-nilai semacam inilah yang seharusnya ditumbuh kembangkan dan dikobarkan disetiap dada bangsa Indonesia, sehingga rasa Nasionalismenya menghujam sampai kedalam.

3)            Masa Perjuangan Kemerdekaan.
Kemerdekaan Indonesia tidak turun dari langit, tidak juga belas kasihan Jepang, meskipun Jepang pernah menjanjikan Kemerdekaan, tapi kemerdakaan ini direbut diperjuangkan dengan harta benda, darah dan airmata, bahkan dengan jiwa dan raga, lihatlah betapa gigihnya para pejuang kita yang tidak kenal menyerah mereka bersemboyan “Merdeka atau Mati” , meskipun mereka juga sadar tidak akan menikmati kemerdekaan ini, tapi demi harga diri,  demi masa depan suatu bangsa demi anak cucu generasi penerus bangsa, mereka berjuang dengan semangat kebangsaan yang luar biasa sehingga dengan bermodalkan bambu runcing mampu menghadapi musuh yang jauh lebih tangguh, maka saat berita bertekuk lututnya Jepang ditangan tentara sekutu, tanpa pikir panjang moment ini dimanfaatkan oleh para Pemuda untuk meminta Sukarno Hatta sebagai rasa hormat dan pengakuan para Pemuda terhadap para Pemimpinnya (Pejuangnya) untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, meskipun tadinya ada perbedaan cara pandang, namun toh akhirnya Sukarno Hatta bersedia untuk memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia tepatnya tanggal 17 Agustus 1945. Berarti sejak saat itu Indonesia secara defacto dan dejure telah merdeka, dan saudara kita yaitu Mesir adalah negara pertama yang mengakui Kemerdekaan Indonesai, tentunya bangsa Indonesia tidak akan pernah melupakan budi baik bangsa Mesir.

4)            Masa Setelah Merdeka.
Sejak merdeka sampai dengan saat ini, minimal tiga Orde telah dilalui, yaitu: Orde Lama, Orde Baaru, Orde Reformasi yang masing-masing mempunyai sepsifikasinya sendiri-sendiri yang secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap Ketahanan Nasionalnya.
(a)        Orde Lama (1945-1966), periode ini tentunya paling sulit, negara yang baru merdeka harus tetap survive dengan segala keterbatasan dan kekurangannya, berbagai persoalan harus dihadapi baik dari dalam maupun dari luar, hal ini lah yang seharusnya mengilhami bangsa Indonesia dalam membangun system ketahanan Nasionalnya, sehingga  berbagai pengalaman pahit di masa lalu  yang hampir saja meluluh lantakan bangsa Indonesia tidak akan terulang lagi,
(b)        Orde Baru (1966-1998), periode ini bangsa Indonesia sudah mulai membangun, pembangunan manusia seutuhnya yang diamanatkan oleh UUD 1945 mulai dilaksanakan, namun HTAG baik dari dalam maupun dari luar silih berganti, sehingga Pemerintahan Orde baru yang direncanakan akan tinggal landas harus jatuh berkeping-keping, dan digantikan dengan Pemerintahan Reformasi yang diharapkan dapat menuju keadaan yang lebih baik
(c)        Orde Reformasi (1998- …) periode ini yang lahirnya dimotori oleh gerakan Mahasiswa dan disambut gegap gempita oleh sebagian besar bangsa Indonesia, banyak hal yang telah dilakukan, namun tidak sedikit disana sini masih ada persoalan, dan yang paling menonjol adalah tidak adanya kepemimpinan Nasional yang dapat mempersatukan kehidupan berbangsa dan bernegara, yang seharusnya secepat mungkin bangsa Indonesia sadar, bahwa kondisi semacam ini sangat membahayakan ketahanan nasional suatu bangsa dalam menghadapi HATAG dalam mempertahankan dan mengembangkan kelangsungan hidupnya.

Melalui Pembinaan Teritorial kita harus mampu memberdayakan sejarah perjuangan bangsa untuk meningkatkan kualitas Nasionalisme bangsa sebagai RAK Juang yang tangguh guna Pertahanan Negaraa demi tercapainya tujuan Nasionalnya

b)      Aspek yang berpengaruh

1)            Letak Geografis.
Geografis negara Indonesia terletak diantara benua Asia dan benua Australia dan diantaraa samudra Pasifik dan samudra Indonesia yang terdiri dari 17.508 pulau besar dan pulau kecil luas wilayahnya 5.193.250 km terdiri dari 2.027.087 km daratan dan 3.166.163 km perairan dilalui oleh garis katulistiwa dengan batas astronomi sebelah Utara  ±  6° 08’  Lintang Utara, Selatan ± 11°15’ Lintang Selatan, Barat ± 94°45’ Bujur Timur,                  Timur ±  141°05’ Bujur timur
(a)            Posisi Silang.
Negara Indonesia yang berbentuk kepulauan besar terletak pada persimpangan jalan atau jalan silang antara dua benua dan samudera yang pengaruh silangnya mempunyai impact-impact ideologis, politis, sosial ekonomis, militer maupun demografis.
Ketahanan Nasional kita mendapat tantangan yang kuat terhadap arus lalu lintas silang, sehingga hanya ada dua kemungkinan yaitu survive atau tenggelam dilanda arus. Dan Ketahanan Nasional dapat dijamin apabila persyaratan Integrasi Nasional dapat dipenuhi. Untuk itulah maka mutlak diperlukan adanya Wawasan Nusantara yang dianggap mampu untuk membentuk dan memelihara Integrasi Nasional.

(b)         Faktor - Faktor Perbatasan.

Sehubungan dengan isi dan tujuan Undang-Undang No. 4 Tahun 1960 Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1970 yang melalui "Teori Kerukunan" Letak geografis Negara Indonesia yang berbatasan dengan wilayah-wilayah negara Tetangga baik perbatasan-perbatasan yang berupa daratan, laut territorial maupun perbatasan wilayah udara, harus dimanfaatkan dan dikembangkan dalam bentuk politik bertetangga baik. Hal ini terus diusahakan untuk mendapatkan pengakuan langsung ataupun tidak langsung dari lingkungan dunia Internasional, sehingga maksud Pemerintah Indonesia dalam usahanya untuk memperjuangkan terwujudnya suatu "Keutuhan Nusantara" dapat dicapai, sehingga akan mempermudah Wawasan Nusantara untuk membentuk dan membina Integrasi Nasional dalam rangka menciptakan Ketahanan Nasional Bangsa Indonesia.

2)            Demografi
Bangsa Indonesia menyebar diseluruh wilayah Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dan dikelilingi lautan dalam bentuk "Archipelago", namun sayangnya penyebarannya tidak merata, terkonsentrasi di Ibu Kota Negara, Ibu Kota Propinsi, Kabupaten dan kota-kota besar lainnya, dengan tingkat pembangunan, pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan yang tidak merata, ini menjadi masalah yang serius didalam membangun sistim ketahanan Nasionalnya, melalui Pembinaan Teritorial kita berdayakan kondisi Demografi ini menjadi suatu kekuatan untuk menjadikan RAK Juang yang tangguh.

3)            Faktor Alam
(a)          Kekayaan Alam
Amanat UUD 1945 pasal, bahwa kekayaan alam dikuasai oleh negara dan sebesar-besarnya digunakan untuk kesejahteraan rakyatnya, belum sepenuhnya dapat diwujudkan, karena ada beberapa kendala diantaranya tidak dimanaj dengan baik dan benar sehingga, kekayaan alam masih sekedar menjadi Potensi tapi belum menjadi Potensial, bahkan ada kecenderungan kekayaan alam justeru potensial sebagai sumber persoalan yang sangat tidak kondusif untuk pembangunan ketahanan Nasional.
(b)          Kondisi Alam
Kondisi Alam Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dan dikelilingi lautan, daratannya sebagian terbuka dan tertutup berbukit-bukit dengan hutan lebat, cuaca mudah berubah dengan dua musim, kemarau dan penghujan, ini merupakan medan yang sangat strategis dalam sistim pertahanan, lihat saja Vietnam telah berhasil memanfaatkan kondisi alamnya untuk sistim pertahanannya sehingga tentara Amerika Serikatpun tidak berdaya dibuatnya, apa lagi Indonesia yang terkenal strategi Perang Gerilyanya, seharusnya mampu menjadikan alam ini sebagai basis pertahanan yang kokoh dalam menghadapi HTAG yang datang dari dalam maupun dari luar. 

4)            Kondisi Sosial
Kondisi Sosial bangsa Indonesia yang terdiri dari Ipoleksosbudhankam sangat berpengaruh terhadap pembangunan sistim Ketahann Nasionalnya
(a)           Idiologi
Pancasila sebagai Idiologi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa, sebagai pemersatu Indonesia yang multi etnik, bisa dibayangkan seandainya kita tidak punya Pancasila, tugas kita mengamalkan Pancasila dalam kehidupaan sehari-hari baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara murni dan konsekwen.
(b)          Politik
Situasi Politik saat ini yang cenderung menganut kebebasan, disatu sisi memberi ruang untuk mengeluarkan pendapat dan aspirasi, sehingga siapapun dapat berpartisipasi dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik lagi, namun disisi yang lain kebebasan yang tanpa batas cenderung anarkis dan destruktif sehingga sangat tidak kondusif untuk membangun ketahanan Nasional.
UU No. 11 tentang TNI POLRI yang memposisikan TNI  POLRI kembali ke barak tidak disibukkan dengan hiruk pikuknya perpolitikan, menjadi peluang untuk menempa dirinya agar semakin Profesional, namun hal ini janganlah membuat TNI POLRI menjauhkan diri dari perkembangan Politik, yang dilarang berpolitik praktis, bukan seluruh aktivitas Politik, TNI POLRI harus ada dimana-mana karena politik TNI adalah Politik Negara, yang harus mengawal, menjaga, melindungi negara dari HTAG dari dalam maupun dari luar.
(c)             Ekonomi
Fluktuasi ekonomi dunia akan sangat berpengaruh terhadap ekonomi dalam negeri, pasar bebas akan memaksa para pelaku bisnis agar bertindak kompetitif, naiknya harga minyak dunia akan semakin meningkatnya subsidi BBM yang akan berpengaruh terhadap APBN, tingkat pengangguran yang tinggi akan memicu kejahatan, bangsa Indonesia harus mensikapi dengan bijak, agar kebijakan Ekonominya dapat memicu pertumbuhan. 
(d)          Sosial Budaya
Sosial Budaya bangsa Indonesia yang Adi Luhung, mulai tidak diminati oleh generasi muda, kurangnya sosialisasi dan pemahaman budaya terhadap generasi muda, berakibat fatal akibatnya generasi muda kita lebih menerima dan menyukai budaya asing dari pada budayanya sendiri, dilain pihak negara tetangga sering mengklaim budaya kita sebagai miliknya, untuk itu perlu adanya Ketahanan Nasional dibidang budaya agar mampu memfilter apakah budaya asing pantas dan sesuai atau tidak.
(e)          Hankam
Dalam hal Pertahanandan Keamanan, UUD 1945 pasal 30 mengamanatkan bahwa setiap warga negara mempunyai kewajiban membela negara, namun UU No. secara tegas memisahkan antara pertahanan dan keamanan, Pertahanan menjadi tanggung jawabnya TNI sedangkan Keamanan menjadi tanggung jawabnya POLRI. Hal ini berimplikasi adanya pembagian tugas, padahal pertahan & keaman adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Sejarah Perjuangan bangsa dan berbagai aspek yang berpengaruh  terhadap ketahanan Nasional bagi Bangsa Indonesia seharusnya dipandang sebagi satu kesatuan yang utuh menyeluruh yang disebut wawasan Nusantara.
Wawasan Nusantara sebagai landasan pandangan hidup Bangsa Indonesia telah mendapatkan kemantapannya setelah melalui proses pemikiran-pemikiran berdasarkan falsafah Pancasila dan proses pengolahan yang didasari sejarah perjuangan bangsa dan berbagai aspek yang berpengaruh telah dikaji   berdasarkan sendi-sendi Ilmu Pengetahuan maupun pengalaman-pengalaman, baik yang bersumber pada pengalaman riil  bangsa Indonesia sendiri maupun pengalaman-pengalaman bangsa-bangsa lain di dunia. Sehingga kondisi semacam ini dapat dimanfaatkan untuk menciptakan RAK Juang yang tangguh agar bangsa Indonesia mampu mengantisipasi dan menangkal sejak dini setiap HTAG yang timbul dari dalam maupun dari luar yang secara langsung atau tidak langsung akan mengancam Integritas identitas bangsa sehingga bangsa Indonesia tetap survive untuk mempertahankan dan mengembangkan kelangsungan hidupnya secara dinamis untuk mencapai tujuan nasionalnya sesuai yang diamanatkan UUD 1945.

14.          Faktor Ekstern
a.            Globalisasi,     
Robert Koehane dan Joseph, menggambarkan Globalisasi adalah apa yang mereka sebut dengan istilah globalisme, yaitu sebuah situasi dunia yang melibatkan jaringan-jaringan interdependensi pada jarak yang multikontinental, lebih jauh mereka mengatakan ketergantungan itu dalam lima bidang yaitu, ekonomi, budaya, masyarakat, lingkungan dan militer, Globalisasi adalah konsep elastis dan dapat dirumuskan melalui berbagai sudut pandang, tidak sedikit perdebatan mengenai terminology globalisasi, namun globalisasi secara umum dapat diterima sebagai suatu proses menyatunya masyarakat dunia bergabung sebagai suatu masyarakat tunggal dunia (global society),  Proses Globalisasi terjadi dibeberapa dimensi kehidupan dengan berbagai konsekwensinya, dalam dimensi ekonomi, digambarkan adanya pasar bebas dengan terjadinya peningkatan yang tajam dalam perdagangan internasional, investasi, arus capital, peran institusi multilateral, institusi keuangaan dan kerjasama global  melakukan aktivitasnya tanpa ikatan nasional, dalam dimensi militer semakin meningkatnya imperialism dan persaingan geopolitik kekuatan-kekuatan besar, system aliansi Internasional dan struktur keamanan Internasional, munculnya perdagangan senjata dunia, difusi tekhnologi militer diseluruh dunia dan institusionalisasi rezim global dengan hak hukum atas hubungan militer dan keamanaan, globalisasi militer juga bisa dipahami sebagai sebuah proses yang menciptakan perkembangan secara ekstensif dan instensif dari hubungan militer diantara unit-unit politik yang ada dalam system dunia, termasuk perluasan inovasi teknologi militer yang ujungnya menyusun kembali sebuah single geostrategic, meskipun menyisakan berbagai perdebatan  terminologi, namun globalisasi disepakati memberikan alat yang berguna secara konseptual, dalam konteks untuk progresifitas dari interaksi transnasional dalam banyak bidang. Namun Globalisasi juga dapat dikatakan sejumlah isu yang awalnya merupakan wilayah nasional, secara natural dikenal dan menjadi isu global, karena adanya peningkatan kapabilitas memindahkan persoalan melintasi batas wilayah, konsekwensinya adalah “mutual vulnerability” Keputusan yang diambil oleh suatu negara seringkali menimbulkan konsekwensi dimana-mana (negara lain)  Indonesia sebagai negara berkembang harus tetap survive bahkan bangkit dalam menghadapi era Globalisasi, melalui pembinaan Teritorial kita berdayakan sehingga menjadi RAK Juang yang tangguh guna terwujudnya Pertahanan Negara demi tercapainya tujuan Nasionalnya.   
  
b.             Ilmu Pengetahuan & Tekhnologi.
Kemajuan Ilmu pengetahuan dan Tekhnologi seharusnya dapat meningkatkan kesejahteraan bangsa, namun apa bila kualitas sumber daya manusianya tidak seiring, maka bangsa tersebut hanya akan menjadi obyek tidak akan menjadi subyek sehingga peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi mutlak untuk mengimbangi pesatnya kemajuan Ilmu Pengetahuan dan tekhnologi terutama dalam percaturan pergaulan dunia yang serba canggih. Negara-negara maju yang didukung sumber daya manusia handal telah dengan leluasa menikmati kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, sedangkan negara berkembang justeru menjadi korban kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, ironi memang tatanan dunia semacam ini, tapi hal ini tidak bisa hanya diratapi tapi kita harus bangkit untuk merebut Ilmu pengetahuan dan Tekhnologi, karena tidak ada satupun negara yang rela memberinya dengan Cuma-Cuma. Melalui Pembinaan Teritori dibidang Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi kita berdayakan menjadi RAK Juang yang tangguh guna Pertahanan Negara demi tercapainya tujuan Nasionalnya.

c.            Politik Internasional
Dalam kancah pergaulan Internasional baik secara Regional & Multilateral Indonesia harus tetap konsisten memainkan peran politiknya sesuai kebijakan politik luar negirinya bebas aktif namun harus lebih tegas terutama dalam pergaulan Bilateralnya guna melindungi kepentingan Nasionalnya, terutama dengan negara tetangga yang bersinggungan langsung dengan perbatasan wilayah Indonesia, kepentingan Nasional harus tetap menjadi prioritas utama disamping kepentingan Internasionalnya. Indonesia dengan wilayah yang sangat luas dan jumlah penduduk yang besar tentunya sangat diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain didunia, maka bangsa Indonesia harus cerdas dalam memainkan peran politiknya di percaturan pergaulan politik dunia yang sarat akan kepentingan masing-masing negara, melalui pembinaan teritorial harus mampu diberdayakan sehingga menjadi RAK Juang yang tangguh guna Pertahanan Negara duna mencapai tujuan Nasionalnya.

d.            Isu Demokrasi
Isu Demokrasi yang sering dihembuskan oleh negara Adidaya (Amerika Serikat) terutama dalam menyoroti negraa-negara berkembang termasuk Indonesia, akan sangat berpengaruh dalam percaturan politik Internasional, di Era Reformasi, Indonesia sudah melakukan berbagai upaya perbaikan Demokrasi, diantaranya adanya Transparansi Penegakan hukum penegakan HAM Kebebasan pers Kebebasan mengemukakan pendapat, Civil Sociati bahkan Pemilihan Presiden secara laangsung dengan cara-cara yang sangat demokratis, ini menandakan adanya loncatan yang luar biasa dalam penegakan Demokrasi di Indonesia, hal inipun di akui oleh dunia Internasional termasuk Amerika meskipun disana-sini masih ada saja catatan kecil, melalui pembinaan teritorial harus mampu memberdayakan Isu Demokrasi sehingga menjadi RAK Juang yang tangguh guna Pertahanan Negara dalam mewujudkan tujuan Nasionalnya.
 
e.            Isu HAM
Hak Azasi Manusia adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, Isu negatif tentang pelaksanaan HAM di Indonesia yang digembar-gemborkan oleh dunia barat khususnya Amerika menjadi kendala bagi Indonesia dalam kiprah Politik Luar negerinya, tugas kita berusaha untuk memperbaiki dan mengurangi kesalahan seminimal mungkin tentang pelenggaran HAM,  ada tiga pokok persoalan Hak Azasi Manusia di Indonesia yaitu :
1)            Pelanggaran yang sudah terjadi, yang harus dicarikan solusinya,
2)            Pencegahan agar tidak terulang lagi terjadinya suatu pelanggran HAM.
3)            Penghormatan HAM dalam kehidupan sehari-hari, dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
Maka pembinaan Teritorial yang harus dilakukan dalam masalah HAM minimal adalah :
(1)           Semua berkewajiban Menegakan, Memenuhi, Menghormati HAM, untuk itu terhadap kasus pelanggaran yang sudah terjadi, harus diselesaikan secara bijaksana, adil dan jujur dengan Konsep “Menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah”
(2)           Mengupayakan  mengatasi persoalan HAM, salah satunya adalah melalui Pencegahan dengan konsep “Mencegah lebih baik dari pada mengobati’ dan tidak mentolerir pelanggaran HAM sekecil apapun yang dilakukan oleh siapapun 
(3)           Mengusahakan Penghormatan HAM dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara dengan konsep “hidup saling menghormati jauh lebih baik dari pada saling memusuhi”
Melalui pembinaan teritorial harus mampu memberdayakan Isu HAM sehingga menjadi RAK Juang yang tangguh guna Pertahanan Negara guna mencapai tujuan Nasionalnya.

BAB. V
KONDISI YANG DIHARAPKAN
15.          Umum.            Berdasarkan uraian tersebut, maka wilayah pertahanan didarat dengan  berbagai aspek yang mempengaruhinya, baik yang bersifat Interen diantaranya sejarah perjuangan bangsa, letak Geografi, Demografi, Ipoleksosbudhankam, maupun yang bersifat eksteren diantaranya ; era globalisasi, kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi, Percaturan Politik dunia, Isu Demokrasi dan HAM, maka   melalui kegiatan Binter kita berdayakan guna terwujudnya RAK juang yang tangguh untuk kepentingan pertahanaan negara guna tercapainya tujuan Nasionalnya.

16.          Kondisi actual           Indonesia adalah negara berkembang yang sedang giat-giatnya membangun, namun kalau situasi dan kondisinya tidak mendukung maka sia-sialah segala upaya yang dilakukan, untuk itu stabilitas menjadi sangat penting sebagai prasyarat pembangunan, di era Reformasi alam kebebasan terbuka begitu lebar, masyarakat diberi kesempatan dan peluang seluas-luasnya untuk berpartisipasi dalam pembangunan, namun yang perlu diingat jangan sampai menyalah gunakan arti kebebasan itu sendiri karena akibatnya justeru fatal, Demokrasi kita telah diatur secara jelas di Pancasila yaitu Sila ke empat “Kemanusiaan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”, artinya Demokrasi kita tetap harus berpedoman pada Pancasila terutama sila ke empat yang intinya adalah “Musyawarah mufakat”, meskipun kebebasan tidak dilarang di negara yang berdasar Pancasila, tapi kebebasan yang dimaksud adalah bebas yang disertai tanggung jawab, artinya mengemukakan pendapat itu boleh saja, asal jangan sampai pendapatnya justru akan memperkeruh masalah atau menimbulkan masalah, karena hal ini akan mengganggu stabilitas nasional dan akhirnya akan mengganggu Pembangunan Nasional
17.          Kondisi yang diharapkan     Begitu banyak persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia, tapi yakinlah kalau kita punya semangat dan tekad yang kuat dan tetap bersatu padu dengan semangat Pancasila, UUD 1945, bangsa Indonesia pasti dapat menyelesaikan berbagai persolan yang dihadapi.
Tulisan ini mencoba merumuskan berbagai persoalan yang dihadapi dan mencari solusi penyelesaiannya, minimal ada dua faktor yang berpengaruh terhadap ketahanan nasional Bangsa Indonesia, yaitu faktor interen dan eksteren, faktor interen diantaranya terdiri dari ; Sejarah perjuangan bangsa, Geografi, demografi, SDM, Ipoleksosbudhankam,  sedangkan faktor eksteren diantaraanya terdiri dari ; Globalisasi, Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi, Isu Demokrasi dan Isu HAM, yang kedua faktor tersebut, suka atau tidak suka ternyata berpengaruh terhadap Ketahanan Nasional Bangsa Indonesia, agar pengaruh kedua faktor tersebut berdampak positif bagi ketahanan Nasional Bangsa Indonesia solusinya adalah ; Mengoptimalkan atau memberdayakan kedua faktor tersebut melalaui kegiatan Pembinaan Teritorial agar menjadi RAK Juang yang tangguh untuk mewujudkan Ketahanan Nasional guna tercapainya tujuan Nasional sebagaimana yang diamanatkan UUD 1945.

BAB.  VI
AKTUALISASI / KONSEPSI / IMPLEMENTASI / OPTIMALISASI
18.          Umum             Aktualisasi dari pemberdayaan potensi Darat melalui (Binter) Pembinaan Teritorial guna mewujudkan RAK Juang` yang tangguh untuk ketahanan nasional, Pembinaan teritorial dibidang Geografi Demografi Kondisi alam Sumber Daya Manusia Ipoleksosbudhankam yang harus dilakukan oleh Petugas Binter Pejabat terkait dan seluruh bangsa Indonesia sesuai pasal 30 UUD 1945 yang menegaskan bahwa “Tiap-tiap warga negara Indonesia berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara” rumusan pasal 30 UUD 1945 mempersyaratkan tiap-tiap warga negara Indonesia memiliki kesadaran terhadap hak dan kewajibannya yang harus ditanamkan ditumbuh kembangkan disosialisasikan melalui kegiatan Binter, sehingga bangsa ini memiliki ketahanan Nassional yang tangguh.

19.          Strategi          Strategi Nasional adalah cara untuk melaksanakan politik / kebijakan Nasional untuk mencapai sasaran dan tujuan nasional, Kebijakan nasional  yaitu rencana alokasi sumber kemampuan bangsa dari rincian dan langkah-langkah dan tahapan waktu yang diperlukan untuk mencapai sasaran nasional, sedangkan sasaran nasional adalah kondisi nyata yang hendak di capai dengan melibatkan usaha dan sumber kemampuan yang telah ditetapkan melalui kebijaksanaan nasional, sedangklan landasan Politik Nasional adalah Ketahanan Nasional, Wawasan Nusantara, UUD 1945 dan Pancasila.
Atas dasar itu maka strategi untuk mengoptimalkan memberdayakan Pengaruh Faktor interen dan eksteren terhadap Ketahanan Nasional yang telah diuraikan diatas guna menciptakan RAK Juang yang tangguh untuk tercapainya tujuan Nasional, melalui kegiatan sebagai berikut :
Pembinaan Teritorial sebagai upaya mewujudkan RAK Juang yang tangguh untuk kepentingan Pertahanan Negara yang dilakukan dalam berbagai bidang adalah :
a)                                                                                            Faktor Interen
1)                                                                                    Sejarah Perjuangan Bangsa
Dengan memahami sejarah perjuangan bangsa, diharapkan seluruh komponen bangsa dapat mengambil hikmahnya, sehingga akan timbul rasa nasionalisme sebagai modal dasar kejuangan, Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan agar pemberdayaan pemahaman Sejarah Perjuangaan Bangsa  dapat dijadikan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)           Sosialisasikan sejarah perjuangan bangsa di lembaga pendidikan, instansi pemerintah dan swasta, masyarakat umum,
(b)           Libatkan media masa cetak dan elektronik 
(c)           Kampanyekan cinta tanah air melalui kegiatan kongkrit
(d)           Kunjungan ke tempat-tempat bersejarah
(e)           Hargai para pahlawan

2)                                                                                    Geografi
Letak Geografi Indonesia yang sangat strategis harus diupayakan seoptimal mungkin untk kepenting Pertahanan Negara, Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan agar Faktor Geografi tetap dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)           Manfaatkan pulau terluar (terdepan) sebagai ujung tombak dalam menjaga wilayah dalam negeri
(b)           Manfaatkan posisi strategis sebagai basis pertahanan dan keamanan
(c)           Tingkatkan pembangunan di pulau terluar (terdepan)
(d)           Bina hubungan Bilateral dan Multilateral dengan baik dengan prinsip saling menghormati dan menghargai
(e)           Tegakkan kedaulatan wilayah NKRI.

3)            Demografi
Dari sudut Demografi  Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dikelilingi lautan dengan wilayah yang sangat luas, penyebaran penduduk keseluruh Indonesia, hal ini dijadikan modal untuk peningkatan ketahanan Nasional, Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan agar Faktor Demografi tetap dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)           Pemerataan dan pemanfaatan pembangunan yang tepat, agar terjadi penyebaran penduduk dan peningkatan kesejahteraan
(b)           Pembinaan teritorial yang intensif, sehingga akan berpihak pada keamanan dan pertahanan
(c)           Konsentrasikan pembangunan di daerah-daerah agar memacu tingkat kesejahteraan masyarakat
(d)           Kebijakan Transmigrasi diteruskan dengan konsep yang disempurnakan
(e)           Dorong putra daerah yang telah sukses di Ibu Kota bahkan telah menjadi Tokoh Nasional, agar berpartisipasi dengan pembangunan di daerahnya.

4)            Faktor Alam (Kondisi Alam & Kekayaan Alam)
Kondisi Alam Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dikelilingi lautan dan terdiri dari bukit dan hutan akan sangat efektif untuk sistim pertahanan begitu juga kekayaan alamnya yang melimpah ruah, harus dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat agar bangsa ini punya ketahanan Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan agar Faktor Alam (Kondisi Alam & Kekayaan Alam) tetap dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)        Mengoptimalkan pengelolaan Faktor alam secara efisien efektif  lestari dan berkesinaambungan
(b)        Pengadaan Alutsista disesuaikan dengan kondisi Alam
(c)        Manfaatkan Kondisi Alam untuk menyususn Strategi pertahanan (Vietnam telah membuktikan saat menghadapi Amerika)
(d)        Amankan dan Optimalkan kekayaan alam secara tepat guna
(e)        Kekayaan alam dijadikan sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat

5)            SDM (Sumber Daya Manusia)
Jumlah penduduk yang banyak merupakan modal dasar pembangunan, namun kalau kualitasnya rendah justru akan menjadi beban pembangunan, maka Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan agar SDM yang ada dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)           Menyiapkan SDM yang Profesional kompetitif dan siap pakai
(b)           Menyiapkan SDM yang maampu menguasai dan mengaplikasikan Ilmu Pengetahuaan dan Tekhnologi sesuai tuntutan jaman
(c)           Menyiapkan SDM yang cerdas dan jujur
(d)           Menyiapkan kualitas SDM bukan menjadi tanggung jawab masyarakat semata, namun  tanggung jawab Pemerintah juga
(e)           Anggaran pendidikan yang sudah cukup besar manfaatkan secara efisien dan efektif,  baik untuk sarana dan prasarananya guna mencapai mutu Standar Internasional  

6)            Idiologi
Bangsa Indonesia telah sepakat bahwa Pancasila adalah dasar negara Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke empat, untuk memperkuat ketahanan di bidang Idiologi agar bangsa ini punya ketahanan  maka    yang harus terus diupayakan agar Idiologi bangsa tetap  dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)        Pancasila sebagai satu-satunya azas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
(b)        Pengamalan Pancasila secara murni dan konsekwen
(c)        Pancasila hendaknya jangan hanya dipahami sebagai Ilmu pengetahuan saja namun yang lebih penting mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakata berbangsa dan bernegara secara konkrit
(d)        Bentuk Komisi Nasional Pancasila
(e)        Segala aktivitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus berpedoman pada Pancasila

7)            Politik
Politik Indonesia saat ini  multi Partai dengan azas beraneka ragam, euvoria Politik  yang cenderung mengedepankan kebebasan, harus disikapi dengan arif bijaksana dan cerdas agar tetap dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan adalah
(a)        Sederhanakan jumlah Partai Politik
(b)        Jadikan Pancasila sebagai satu-satunya Azas
(c)        Kaji Ulang kebijakan Politik yang berdampak negative dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
(d)        Ajak seluruh komponen bangsa terutama para pelaku politik agar dalam berpolitik (High Politik) politik tingkat tinggi artinya Profesional dan lebih mengedepankan  kepentingan kemajuan Bangsa dan Negara
(e)        Tingkatkan kebersamaan, kesatuan dan persatuan demi maju dan utuhnya NKRI.

8)            Ekonomi
Ekonomi dalam negeri sangat dipengaruhi oleh ekonomi dunia, tingkat pertumbuhan ekonomi menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat maka upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi adalah hal mutlak agar bangsa ini dapat sejahtera dan maju, melalui Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan agar tetap dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)           Mewujudkan kemakmuran yang adil dan merata melalui ekonomi kerakyatan
(b)           Menghindari free fight, liberalism, etatisme monopoli ekonomi
(c)           Usaha bersama atas azas kekeluargaan
(d)           Pemerataan pembangunan dan pemanfaatannya dengan memperhatikan keseimbangan dan keserasian antara pusat dan daerah, antar wilayah dan antar sektor
(e)           Pembangunan jangan hanya terkonsentrasi dipusat, diupayakan didaerah, bahkan pulau terluar (terdepan)

9)            Sosial Budaya.
Gencarnya budaya asing yang terus merongrong budaya bangsa, adanya klaim-klaim budaya dari negara tetangga, ini semua menandakan betapa pentingnya membentengi bangsa dari pengaruh budaya asing, agar bangsa ini punya ketahanan     Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan agar Budaya Bangsa  tetap dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)            Berpedoman pada pengamalan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa
(b)           Tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa
(c)           Mempunyai kemampuan untuk memilah-milah,  menangkal dan memfiltrasi budaya asing yang tidak sesuai dengan busaya Indonesia
(d)           Menjadikan budaya Indonesia menjadi tuan rumah di negaranya sendiri
(e)           Budaya dijadikan sebagai alat pemersatu dan memperkuat ketahanan bangsa.

10)          Hankam
Pembinaan Teritorial dibidang pertahanan dan keamanan, meskipun UU TNI No 11 yang memisahkan secara tegas bahwa tugas TNI di bidang pertahanan dan POLRI dibidang keamanan, sebenarnya pertahanan dan keamanan hanya bisa dibedakan tapi tidak bisa dipisahkan, agar bangsa ini punya ketahanan Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan agar bangsa  tetap dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)           Optimalkan kerjasama yang baik antar komponen bangsa demi kepentingan pertahanan nasional
(b)           Politik luar negeri diprioritaskan untuk kepentingan kerjasama yang dapat menguntungkan pertahanan, keamanan dan keutuhan NKRI.
(c)           Pengadaan Alutsista yang efisien, efektif dengan  pertimbangan skala prioritas
(d)           Siapkan seluruh komponen bangsa melalui bela negara agar kapan saja bisa didayagunakan
(e)           Manfaatkan dan optimalkan peran dan fungsi  Industri milik TNI dan lainnya yang ada kaitannya dengan sistim pertahanan keamanan

b)         Faktor Eksteren
                        1)         Globalisasi
                                    Dari segi proses Globalisasi berlangsung melalui dimensi yaitu dimensi ruang dan waktu, ruang dipersempit dan waktu dipercepat sehingga seolah-olah negara tanpa batas kebijakan di suatu negara akan berdampak terhadap negara lainnya, globalisasi juga  berpengaruh positif dan negative terhadap nilai-nilai nasionalisme suatu bangsa, Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan agar Globalisasi dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)          Memacu untuk berkompetisi disegala bidang yang menguntungkan bagi peningkatan kualitas bangsa
(b)          Mengadopsi pola fikir yang baik tentang etos kerja, disiplin,  kemajuan Iptek.
(c)          Menangkal dampak negative dari globalisasi
(d)          Memanfaatkan terbukanya kesempatan kerja, dengan menyiapkan tenaga-tenaga professional
(e)          Mempersiapkan SDM yang tangguh

                        2)         Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi
                                    Pesatnya perkembangan Ilmu pengetahuan dan tekhnologi, harus diimbangi dengan kemampuan SDM agar kemajuannya berdampak positif terhadap bangsa dan negara Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan agar Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)          Pemanfaatan kemajuan Ilmu pengetahuan dan tekhnologi untuk peningkatan kemajuan dan kesejahteraan bangsa
(b)          Menangkal dampak negatif dari kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi.
(c)          Berperan aktif untuk terus mengikuti kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi agar tidak ketinggalan zaman
(d)          Memilah Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi yang tepat guna dan cocok dengan Indonesia
(e)          Menggunakan Ilmu Pengetahuan dan tekhnologi untuk hal-hal positif.

                        3)         Isu Demokrasi
                                    Isu Demokrasi menjadi salah satu kendala bagi bangsa Indonesia dalam memainkan Politik Luar Negerinya, dunia barat dan khususnya Amerika Serikat negara yang mengklaim dirinya sebagai negara yang paling Demokratis sering mempertayakan pelaksanann Demokrasi di Indonesia, berbagai upaya diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah belum mendapatkan hasil yang optimal, hal ini harus menjadi masalah serius yang harus terus menerus diupayakan untuk penyelesaian lebih lanjut, maka Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan agar Isu Demokrasi dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)            Para Diplomat harus cerdas menjelaskan tentang pelaksanaan Diplomasi di Indonesia
(b)           Menangkal dampak negatif dari Isu Demokrasi tersebut.
(c)           Aktif terhadap perdamaian dunia dengan berprinsip pada politik luar negerinya “bebas aktif)
(d)           Membina hubungan baik dengan negara-negara didunia  secara bilateral maupun multilateral agar berdampak positif
(e)           Memperbaiki pelaksanaan Demokrasi di Indonesia.

4)         Isu HAM
                        Isu HAM menjadi salah satu kendala bagi bangsa Indonesia dalam memainkan Politik Luar Negerinya, PBB yang dimotori Amerika Serikat sering mempertayakan pelaksanann HAM di Indonesia, berbagai upaya diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah belum mendapatkan hasil yang optimal, hal ini harus menjadi masalah serius yang   harus terus menerus diupayakan untuk penyelesaian lebih lanjut, maka Pembinaan Teritorial harus terus diupayakan agar Isu HAM dapat diberdayakan sebagai RAK Juang yang tangguh untuk Pertahanan Negara, kegiatan Binter yang harus dilakukan diantanya melalui :
(a)           Pencegahan agar tidak terulang lagi terjadinya suatu pelanggran HAM.
(b)           Penghormatan HAM dalam kehidupan sehari-hari, dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
(c)           Semua berkewajiban Menegakan, Memenuhi, Menghormati HAM, untuk itu terhadap kasus pelanggaran yang sudah terjadi, harus diselesaikan secara bijaksana, adil dan jujur dengan Konsep “Menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah”
(d)           Mengupayakan  mengatasi persoalan HAM, salah satunya adalah melalui Pencegahan dengan konsep “Mencegah lebih baik dari pada mengobati’ dan tidak mentolerir pelanggaran HAM sekecil apapun yang dilakukan oleh siapapun 
(e)           Mengusahakan Penghormatan HAM dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara dengan konsep “hidup saling menghormati jauh lebih baik dari pada saling memusuhi”
20.          Penjabaran Strategi,  Agar strategi ini dapat dilaksanakan maka perlu dijabarkan/ diuraikan sbb :
a.                                                             Tujuan
Penulisan ini bertujuan untuk merumuskan dan mencari solusi pengaruh   Faktor interen dan eksteren terhadap Ketahanan Nasional melalui kegiatan Binter  guna mewujudkan RAK Juang yang tangguh untuk kepentingan Pertahanan Negara guna tercapainya Tujuan Nasioanl sebagaimana yang diamanatkan UUD 1945..
b.                                                             Sasaran
Sasaran dari penulisan ini adalah Pemberdayaan pengaruh Faktor interen dan eksteren terhadap Ketahanan Nasional guna terwujudnya RAK juang yang tangguh untuk kepentingan Pertahanan Negara 
c.                                                             Subyek
Pejabat Binter, pejabat terkait dan seluruh komponen bangsa yang menangani masalah kegiatan pembinaan teritorial
d.                                                             Obyek
Obyek kegiatan Binter ditujukan terhadap  Faktor interen dan eksteren  yang berpengaruh terhadap ketahanan nasional yang dapat menimbulkan HTAG
e.                                                             Metode
Penulisan ini berdasarkan studi kepustakaan dan informasi yang dihimpun dari media cetak maupun elektronik dan pengamatan kondisi sosial masyarakat yang terus berkembang, agar diperoleh gambaran yang komperhensif sebagai masukan  untuk menyusun strategi Pertahanan Negara.

21.          Upaya
Dalam situasi seperti sekarang ini, agar bangsa Indonesia mempunyai ketahanan nasionalnya sehingga dapat menghadapi Hambatan Tantanga Ancamaan dan Gangguan yang datang dari dalam maupun dari luar yang secara langsung maupun tidak langsung dapat berpengaruh terhadap integritas kehidupan berbangsa dan bernegara dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya untuk mencapai tujuan nasionalnya, maka upaya yang harus dilakukan oleh para Pejabat Binter, Pejabat Terkait dan seluruh komponen bangsa adalah dengan kesadaran Nasionalisme yang tinggi mengupayakan pemberdayaan berbagai Faktor yang berpengaruh terhadap Ketahanaan Nasional  agar menjadi RAK Juang yang tangguh guna menciptakan Pertahanan Negara untuk mencapai tujuan Nasionalnya.
BAB-VII
PENUTUP
22.          Kesimpulan
Wawasan Nusantara sebagai suatu landasan hidup bagi Bangsa Indonesia mutlak harus ada dan wajib dikaji dan dikembangkan terus sesuai dengan perkembangan kebutuhan. oleh karena Bangsa Indonesia hidup bersama-sama diatas pentas pergaulan Internasional bangsa-bangsa di dunia, maka Wawasan Nusantara mutlak harus dimiliki sebagai akibat Doktrin Kebutuhan (Doctrine of Necessity) dan Doktrin Hak Mempertahankan Diri (Doctrine of Right of Self Prevention). dan berbagai Factor yang berpengaruh secara eksteren seperti ; Globalisasi, Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi, Isu Demokrasi, Isu HAM dan Faktor Interen seperti ;  Pengalaman proses sejarah perjuangan bangsa yang panjang ditambah dengan letak geografis, demografis, kondisi alam Negara Indonesia yang berada pada posisi silang, Sumber Daya Manusia dan faktor kondisi sosial  ; (IPOLEKSOSBUDHANKAM) Idiologi Politik Ekonomi Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan, dengan adanya falsafah Pancasila yang berwatak toleran maka mutlak diciptakannya suatu Integrasi Nasional di segala bidang Kebulatan Wilayah Nasional, satu kesatuan bangsa, satu tujuan dan tekad perjuangan satu kesatuan hukum satu kesatuan sosial budaya satu kesatuan ekonomi dan satu kesatuan hankam melalui kegiatan Pembinaan Teritorial kita wujudkan sebagai RAK Juang yang tangguh  untuk mendapatkan Ketahanan Negara  sebagai syarat mutlak guna mencapai tujuan Nasionalnya..
23.          Saran

a.             Perlunya pemahaman sejarah perjuangan bangsa bagi seluruh komponen bangsa untuk diambil hikmahnya guna menumbuhkan rasa Nasionalisme
b.             Sadari dan manfaatkan seoptimal mungkin posisi strategis geografi Indonesia untuk kepentingan kesejahteraan dan pertahanan negara guna mewujudkan tujuan nasionalnya
c.             Politik Luar Negeri Indonesia selain berpartisipasi secara aktif dalam perdamaian dunia, harus dipertegas lagi terutama sehubungan Indonesia berada pada posisi silang, baik hubungan bilateral maupun multilateral.
d.             Dari faktor Demografi perlunya pemikiran secara utuh menyeluruh terhadap pemberdayaan Demografi
e.             Potensi Alam (Kondisi alam & kekayaan alam) perlu diberdayakan seoptimal mungkin agar menjadi potensial demi kesejahteraan dan keamanan seluruh bangsa dan negara Indonesia.
f.              Sumber Daya Manusia yang banyak modal dasar pembangunan, namun kalau kualitaasnya rendah akan menjadi beban pembangunan, maka perlu pemberdayaan kualitas SDM.
g.             Perlu dibentuknya Komisi Nasional Pancasila guna Pemberdayaan Pengamalan Pancasila sebagai Idiologi bangsa dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara secara murni dan konsekwen    
h.             Perlu penyederhanaan jumlah partai politik dan penerapan azas tunggal (Azas Pancasila) agar efisien dan efektif, hentikan euvoria politik.
i.              Percepatan, pemerataan pertumbuhan ekonomi di segala bidang dengan melakukan berbagai inovasi dan
j.              Lemahnya ketahanan sosial budaya bangsa Indonesia akan sangat berpengaruh terhadap seluruh aspek kehidupan, pemberdayaan aspek sosial budaya menjadi hal penting guna mewujudkan RAK Juang yang tangguh
k.             Pertahanan dan keamanan, meskipun UU TNI No.11 memisahkan secara jelas Pertahanan ditangani oleh TNI dan Keamanan oleh POLRI, tapi pertahanan dan keamanan hanya bisa dibedakan tapi tidak mungkin dipisahkan, maka pemberdayaan seluruh aspek potensi bangsa dan negara untuk mewujudkan RAK Juang yang tangguh guna tegak, utuh dan majunya NKRI mutlak demi mencapai tujuan Nasionalnya. 
l.                                              Bangsa Indonesia harus survive dan bangkit di Era Globalisasi
m.                                           Rebut dan kuasai Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi
n.             Indonesia harus konsisten dalam politik luar negerinya bebas aktif tapi tetap memprioritaskan kepentingan Nasionalnya, jadi harus cerdas dan lugas dalam menghadapi percaturan politik global
o.              Indosia jangan larut atau bahkan ikut irama tentang isu demokratisasi yang dihembuskan dari negara adi daya, tapi tetap harus konsisten Demokrasi kita adalah Demokrasi Pancasila
p.             Indonesia harus berani menunjukan kepada dunia bahwa di negara yang berdasarkan Pancasila Penegakan HAM telah dilaksanakan, dengan bukti adanya Komisi Nasional Hak Azasi Manusia yang telah berdiri sejak Keppres No. 50 Th. 1993 tentang Komnas HAM, dan pada tanggal 7 Juni 1993 dibentuklah Komnas HAM, bahkan untuk menguatkan penegakan HAM maka MPR mengeluarkan TAP MPR No. XVII/MPR/1998.

















1.Daftar Pustaka :
2. Permasalahan
3. F Eks











1)         Negara Indonesia negara kesatuan berbentuk Republik
2)         Kedaulatan    ditangan     rakyat  dilakukan   sepenuhnya    oleh














TZMKO 1939 tidak menjamin kesatuan wilayah Indonesia sebab wilayah Indonesia menjadi terpisah-pisah, sehingga pada tgl. 13 Desember 1957 pemerintah mengeluarkan Deklarasi Djuanda yang isinya :

Pertama Segala perairan disekitar, diantara dan yang menghubungkan pulau-pulau yang termasuk negara Indonesia dengan   tidak memandang luas/lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar daripada wilayahdaratanIndonesia.

Kedua Lalu-lintas yang damai di perairan pedalaman bagi kapal-kapal asing dijamin selama dan sekedar tidak bertentangan/mengganggu kedaulatan dan keselamatan negara Indonesia.
Ketiga Batas laut teritorial  adalah 12 mil  diukur dari garis yang menghubungkan titik-titik ujung yang terluar pada pulau-pulau negara Indonesia.
Sebagai negara kepulauan yang wilayah perairan lautnya lebih luas dari pada wilayah daratannya, maka peranan wilayah laut menjadi sangat penting bagi kehidupan bangsa dan negara

                        Undang-Undang No. 4 Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia menyatakan bahwa Perairan Indonesia ialah laut wilayah ( Laut Territorial ) Indonesia beserta perairan pedalaman Indonesia. Negara Indonesia terdiri dari atas sejumlah besar kepulauan dalam bentuk "Archipelago" dalam arti Indonesia dengan pulau-pulau dan laut sekelilingnya sebagai kesatuan yang utuh. Oleh karenanya Indonesia menganggap mempunyai hak atas segala perairan yang terletak di dalam batas-batas garis laut wilayah, atas wilayah daratan dan ruang udara di atasnya. Dengan demikian jelas bahwa Negara Republik Indonesia berada dalam satu kesatuan wilayah yang utuh dan terdiri atas wilayah daratan, wilayah laut territorial dan perairan pedalaman beserta ruang udara diatasnya. Oleh karena itu Wawasan Nusantara adalah Wawasan yang mampu menampung segala unsur yang mencakup perpaduan aspek-aspek laut, darat dan udara, baik untuk pencapaian Tujuan-Tujuan Perjuangan Nasional maupun untuk kepentingan-kepentingan Pertahanan dan Keamanan Nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar